Friday, August 05, 2011
MY CURRENT REASEARCH PROJECTS
Dalam beberapa bulan ke depan, ada dua kegiatan penelitian yang akan saya laksanakan. Pertama, penelitian terkait dengan penyelesaian studi S-2 saya dalam bidang pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Judul penelitian untuk THESIS saya ini adalah : MODELS OF ENGLISH LESSON PLANNING AND INSTRUCTIONAL ACTIVITIES : A CASE STUDY CONDUCTED AT SMK NEGERI 1 BALIKPAPAN. Penelitian ini merupakan pengembangan tugas akhir matakuliah 'Qualitative Research' yang telah saya ikuti pada semester II studi pascasarjana saya. Untuk mengetahui lebih jauh tentang penelitian ini, dapat dibaca di tautan berikut ini; http://myvirtualviews.files.wordpress.com/2011/08/thesis-preliminary-proposal.pdf
Penelitian saya yang kedua terkait dengan Program Penelitian Dosen Mandiri yang disponsori oleh Politeknik Balikpapan [Tentu jika proposal penelitian yang insyaAllah akan saya ajukan dalam waktu dekat ini disetujui oleh UPPM Politeknik Balikpapan]. Judul penelitian kedua saya ini adalah: EFEKTIFITAS PELAKSANAAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN PADA SEKOLAH SWASTA DI KOTA BALIKPAPAN. Informasi lebih rinci tentang penelitian ini dapat dibaca dalam tautan berikut ini; http://myvirtualviews.files.wordpress.com/2011/08/proposal-penelitian-dosen-mandiri-2011.pdf
Semoga bermanfaat !
Balikpapan, 6 September 2011
SAZ
Sunday, July 31, 2011
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H
Para Pembaca Yang Saya Hormati,
Mengawali bulan RAMADHAN yang penuh barakoh ini, ijinkan saya mengucapkan SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H bagi siapa saja yang menjalankannya dan dimanapun berada. Mohon maaf bila selama ini pernah tertulis kata-kata saya yang kurang berkenan di hati baik yang terjadi dengan kesengajaan saya maupun tidak. Semoga segala amal ibadah yang kita lakukan di bulan suci ini diterima oleh Allah SWT. Amien.
Balikpapan, 1 Agustus 2011
SYAMSUL AEMATIS ZARNUJI
DEKLARASI PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA : Masikah Ada Harapan Disana ?
DEKLARASI PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA : Masikah ada harapan disana ?
By : SYAMSUL AEMATIS ZARNUJI
Upacara Senin pagi 24 Juli 2011 ini di sekolah kami tidak seperti biasanya. Ada banyak acara ekstra mulai dari pidato bahasa Inggris yang disampaikan oleh salah satu siswa kami yang baru saja kembali dari Amerika Serikat dalam rangka mengikuti Youth Leadership Exchange Program yang terselenggara atas kerjasama kami dengan Civic Initiative Indonesia dan State Department of US Embassy Jakarta, penyerahaan berbagai piala/piagam penghargaan bagi siswa yang memenangi berbagai lomba hingga pembacaan DEKLARASI PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA yang dilakukan secara bersama oleh perwakilah guru, tenaga kependidikan dan siswa di sekolah kami. Yang terakhir saya tulis dalam huruf besar karena hal inilah yang membuat saya gundah. Terselip pertanyaan dalam hati saya, masihkan ada harapan untuk para penyelenggara pendidikan di negeri ini agar benar-benar secara konsisten mengimplementasikan salah satu butir saja dari apa yang telah dideklarasikan.
Apakah gerangan butir deklarasi yang membuat hati saya gundah tersebut ? Apalagi kalau bukan KEJUJURAN. Jelas sekali saya dengar setiap butir deklarasi yang dibacakan melalui pengeras suara dan saya menjadi gundah ketika mendengar bahwa KEJUJURAN menjadi salah satu karakter yang akan dijunjung tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Saya gundah, ragu-ragu dan diliputi perasaan pesimis atas terwujudnya penyelenggaraan pendidikan yang JUJUR manakala melihat kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan hal tersebut. Sungguh sebuah hal yang sangat paradoksal !
Sejak saya terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan di negeri ini lima belas tahun yang lalu hingga saat ini, secara terang benderang dan kasat mata tampak bahwa KEJUJURAN ITU telah menjadi barang langka. KEJUJURAN itu telah dirampok oleh sebuah kepentingan lalu disembunyikan oleh pihak-pihak yang berkuasa. KEJUJURAN itu telah dibuat tak berdaya hingga tak mampu lagi menghampiri segelintir anak negeri yang masih polos dan lugu. KEJUJURAN itu telah menjadi barang menakutkan bagi mereka.
Ungkapan-ungkapan ini cukup kiranya memberi gambaran betapa mahlnya harga sebuah KEJUJURAN dalam ranah-ranah tertentu penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Penyelenggraan ujian nasional, pengelolaan pembiayaan, pelaksanaan akreditasi, sertifikasi guru hingga penentuan status sekolah telah menjadi tempat dimana KEJUJURAN itu semakin tidak bersahabat. Kasus-kasus contek masal, manipulasi dan katrol nilai ujian nasional, manipulasi laporan BOS, sogok menyogok akreditasi sekolah, pemalsuan sertifikat dalam kegiatan sertifikasi guru dan penentuan status sekolah tanpa dasar yang jelas sudah lebih dari cukup untuk menjadi cermin betapa KEJUJURAN itu telah menjadi asing di mata para pengelola pendidikan di negeri ini.
Kenyataan ini semakin ironis ketika menyadari bahwa kelangkaan dan kekerdilan KEJUJURAN itu justru terjadi di sebuah tempat dimana hal itu semestinya tumbuh subur. Pendidikan [baca: sekolah] sebagai rumah dimana KEJUJURAN itu diharapkan bisa hidup, berkembang biak dan merambah ke seluruh penghuninya, bahkan orang-orang yang ada disekitarnya, justru kini menjadi pembunuh yang sadis. KEJUJURAN yang sejak lahir dipupuk dalam hati para siswa, guru, kepala sekolah dan mungkin kepala dinas pendidikan telah dikerdilkan bahkan dirampok oleh para penguasa dengan sistem yang dibuatnya. Sungguh menyedihkan ! Lalu masihkah ada harapan terhadap KEJUJURAN sebagai sebuah karakter pendidikan di republik ini ? Semoga bermanfaat.
Balikpapan, 24 Juli 2011
Salam Kejujuran,
/SAZ/
Saturday, November 27, 2010
GURU DAN TELKOMSEL : SEBUAH IRONI ?
Sebagai pelanggan yang cukup lama dan setia dengan kartu HALO, saya selalu berharap TELKOMSEL dapat memberi sedikit perhatian kepada pelanggan seperti saya dalam bentuk non finansial sekalipun. Sebut saja misalnya, peliputan atau penayangan profil pelanggan HALO atau produk TELKOMSEL lainnya pada media-media informasi atau promosi yang diluncurkannya. Salah satu yang selalu saya ikuti adalah tayangan profil pelanggan/tokoh di radio SMART FM Balikpapan. Jika saya perhatikan dari lamanya para pelanggan atau tokoh yang bersangkutan menjadi pelanggan Kartu HALO atau produk TELKOMSEL lainnya yang ditampilkan dalam acara tersebut, saya harus katakan bahwa sebagian besar dari mereka masih 'hijau' soal kesetiaan pada sebuah produk. Tapi yang mengherankan, mereka mendapatkan ’privilege’ yang lebih dibandingkan dengan pelanggan-pelanggan seperti saya dari TELKOMSEL. Saya menduga 'privilege' ini mereka dapatkan karena mereka adalah pelanggan yang dianggap sebagai tokoh dalam sebuah komunitas tertentu atau karena mereka punya banyak uang yang diberikan keapada TELKOMSEL melalui pembayaran 'phone billing' setiap bulannya. Sementara, pelanggan-pelanggan seperti saya, disamping tidak punya 'pundi' yang cukup besar, ketokohannya pun seringkali dimarjinalisasikan oleh kebanyakan masyarakat kita, mungkin juga oleh TEKOMSEL dalam konteks dan filosofi 'customer care' yang dianutnya.
Seorang pelanggan yang berprofesi sebagai guru, dalam perspektif bisnis yang dianut oleh TELKOMSEL, bisa jadi dipandang tidak memiliki 'nilai jual' yang cukup dalam rangka menaikkan derajat korporasi dimata publik atau bisa saja karena guru dianggap tidak mampu menjadi agen yang dapat mengubah atau membangun image sebagai basis pengkreasian 'buyers network' atas sebuah produk yang sedang dipasarkan. Dengan demikian, berapapun lama dan sesetia apapun seorang pelanggan yang berlatar belakang profesi sebagai guru seperti saya terhadap produk tersebut, dimata korporasi yang menganut filosofi bisnis seperti ini, keberadaan pelanggan seperti dimaksud boleh jadi belum patut diperhitungkan.
Kalau filosofi ini kemudian yang dianut oleh TELKOMSEL dalam menjalankan bisnisnya sehingga para pelanggan yang berlatar belakang dan memiliki status sosial seperti saya kurang diperhatikan, saya dengan berat hati harus legowo menurunkan kadar kebanggaan yang saya miliki atas korporasi ini dalam waktu lebih dari satu dekade terakhir ini. Saya juga harus berani mengatakan bahwa TELKOMSEL telah salah dalam memaknai dan memposisikan pelanggannya yang berlatar belakang guru seperti saya. TELKOMSEL telah gagal melihat peran lain yang cukup potensial dalam perspektif bisnis tentunya yang mampu dimainkan oleh seorang guru selain fungsi edukasi dan sosial yang selalu melekat dan tak terelakkan dalam dirinya.
Seorang pelanggan yang berprofesi sebagai guru, dalam perspektif bisnis yang dianut oleh TELKOMSEL, bisa jadi dipandang tidak memiliki 'nilai jual' yang cukup dalam rangka menaikkan derajat korporasi dimata publik atau bisa saja karena guru dianggap tidak mampu menjadi agen yang dapat mengubah atau membangun image sebagai basis pengkreasian 'buyers network' atas sebuah produk yang sedang dipasarkan. Dengan demikian, berapapun lama dan sesetia apapun seorang pelanggan yang berlatar belakang profesi sebagai guru seperti saya terhadap produk tersebut, dimata korporasi yang menganut filosofi bisnis seperti ini, keberadaan pelanggan seperti dimaksud boleh jadi belum patut diperhitungkan.
Kalau filosofi ini kemudian yang dianut oleh TELKOMSEL dalam menjalankan bisnisnya sehingga para pelanggan yang berlatar belakang dan memiliki status sosial seperti saya kurang diperhatikan, saya dengan berat hati harus legowo menurunkan kadar kebanggaan yang saya miliki atas korporasi ini dalam waktu lebih dari satu dekade terakhir ini. Saya juga harus berani mengatakan bahwa TELKOMSEL telah salah dalam memaknai dan memposisikan pelanggannya yang berlatar belakang guru seperti saya. TELKOMSEL telah gagal melihat peran lain yang cukup potensial dalam perspektif bisnis tentunya yang mampu dimainkan oleh seorang guru selain fungsi edukasi dan sosial yang selalu melekat dan tak terelakkan dalam dirinya.
Perusahaan-perusahaan yang menganut filosofi seperti ini bisa jadi meyakini bahwa hanya tokoh-tokoh politik, pejabat, bintang film, penyanyi, pelawak dan profesi-profesi yang kadangkala bisa diraih secara instan tersebut saja yang mampu mengubah dan membangun image ’target market’ yang dinginkannya. Mereka lupa bahwa guru sejatinya begitu amat dekat dengan ’target market’ tersebut. Guru, tanpa bisa difungkiri, telah menjadi salah satu bagian dari sebuah profesi dan status sosial masyarakat yang membawa misi pembaharuan ide, gagasan dan image atas sesuatu hal. Guru juga, sebagaimana tokoh-tokoh politik dan pejabat-pejabat yang ’distimewakan’ oleh TELKOMSEL tersebut, memiliki ’massa’ yang jumlahnya begitu banyak dan bertambah dari tahun ke tahun yang berpotensi dijadikan ’target market’ atas produk yang hendak dipasarkannya. Potensi-potensi seperti ini justru seringkali mampu dibaca oleh pihak-pihak yang notabene bukan representasi dan korporasi yang menjadi backbone perekonomian negara kita. Eksistensi guru sebagai ’agent of change’ dalam persoalan ide, gagasan dan image malah dimanfaatkan di satu sisi, namun termuliakan di sisi lain, oleh organisasi-organisasi yang bukan dimiliki oleh bangsa kita.
Dalam berbagai ajang internasional yang pernah saya ikuti dalam lima tahun terakhir ini dimana guru dari berbagai belahan dunia terlibat di dalamnya, saya selalu mendapatkan jawaban yang sama ketika saya bertanya mengapa guru diberikan kesempatan yang begitu luas dan diistimewakan dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Mengapa oraginasi-organisasi yang secara faktual bukan milik bangsa ini tetapi dengan begitu antusias menempatkan orang-orang seperti saya pada posisi yang istimewa ? Mengapa setiap kali kunjungan saya ke negara adidaya seperti Amerika Serikat, saya selalu diberikan kesempatan menjadi tamu kehormatan dan berbicara di salah satu jaringan televisi dan radio terbesar di dunia; Voice of America, sementara di Indonesia, untuk tampil sebagai salah satu tamu TELKOMSEL melalui jaringan radio SMART FM saja begitu sulit diwujudkan. Jawaban mereka atas pertanayaan-pertanyaan tersebut tak lain dan tak bukan karena guru memiliki peran yang tidak kalah penting dan kuat dalam rangka membangun persepsi atas berbagai hal. Satu kata seorang guru bisa menjadi beratus-ratus bahkan beribu-ribu kata ketika hal itu disampaikan kepada siswa-siswinya, tidak terkecuali ketika sebuah korporasi ingin memperkenalkan produk yang diciptakannya.
Kalau demikian adanya, masihkan TELKOMSEL memarjinalisasikan pelanggan dengan latar belakang, profesi dan status sosial seperti ini dalam berbagai kegiatan ’customer care’ yang dijalankannya ? Selamat Hari Guru 25 November 2010 ! Jayalah Guruku, Jayalah Negeriku dan Jayalah Bangsaku !
Salam,
Friday, August 13, 2010
BALIKPAPAN ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGE (BALIBALING)
As an Indonesian Educator and alumnus of The US Department of State Educators Exchange Program 2006 & 2009, I have always been dreaming about promoting every single aspect of life belongs to Indonesia and United States of America to those who have not had first-hand experience on them. I am, therefore, planning to launch a virtual forum which I refer it as BALIKPAPAN ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGE (BALIBALING) in the near time. BALIBALING is an ICT-Based education and exchange forum where teachers and students in Balikpapan can VIRTUALLY share and exchange information about cultures, customs, politics, life stiles, arts, history, education, technology as well as teaching and learning materials with other teachers and students in Amherst [http://en.wikipedia.org/wiki/Amherst_Massachusetts/ or http://www.amherstma.gov/] , USA. In order to be able to actively participate in this forum, each member or participant has to possess good command of English and computer literacy. Thus, possessing good English communication skill is applied as one of initial requirements to be member or participant of such a forum. For this reason, I have decided to establish two supporting programs for those who are interested in joining it. The two programs are carrying out WORKSHOPS ON ICT-BASED ACTIVE LAERNING AND TEACHING (1) and conducting VIRTUAL TEACHERS & STUDENTS EXCHANGE PROGRAM (2). The establishment of BALIBALING and its two supporting programs are to be included in my collaborative post-action project which is entitled DEVELOPING AND EMPOWERING ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGES AMONG TEACHERS-STUDENTS IN BALIKPAPAN AND TEACHERS-STUDENTS IN AMHERST, UNITED STATES OF AMERICA. The final goal of this project is that to help its participants have better learning & teaching skills using ICT and promote mutual understanding about Indonesia and United States of America among them. This project will last from November 2010 until October 2011.
There will be two groups of teachers-students expected to participate in this project; teachers-students reside in Balikpapan, Indonesia and those living in Amherst, USA. Through VIRTUAL TEACHERS & STUDENTS EXCHANGE PROGRAMS (VTSEP), those two groups will interactively share and discuss about particular topics ranging from cultures, customs, politics, life styles, arts, history, education, technology as well as teaching and learning materials one to another. Besides that, they will also participate in some workshops on ICT-Based Active Learning and Teaching (IBALT). This program is compulsory especially for those who have not had adequate skills in joining the VTSEP.
To reach the final goal of this project, all primary program activities are designed in order to lead each participant to study best practices of using ICT and using them for better learning and teaching while promoting self awareness about country’s heritages belong to both sides. All program activities and time frames of the project are outlined as follows;
A. NOVEMBER – DECEMBER 2010: PRELEMINARY PREPARATION
1. Proposal Finalization.
2. Making project exposures and publications.
3. Founding and declaring the foundation of BALIKPAPAN ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGE (BALIBALING).
4. Making preliminary contacts with teachers and students in Amherst, USA.
5. Proposing the project to the US Department of State for program financing support.
B. JANUARY-FEBRUARY 2011: WORKSHOPS ON ICT-BASED ACTIVE LEARNING AND TEACHING.
1. BASIC PROGRAM: Using Word processing, Spread Sheet, Internet and Electronic Mails [E-mails].
2. INTERMEDIATE PROGRAM: Using Power Point, Front Page, Intranet [LAN], E-mailing Group and Weblog.
3. ADVANCED PROGRAM: Using Pinnacle, Photoshop and making simple website to design and publish on and off-line learning and teaching materials.
C. MARCH-SEPTEMBER 2010: CONDUCTING VIRTUAL TEACHERS & STUDENTS EXCHANGE PROGRAM (VTSEP).
1. Preliminary Activities:
• Making further contacts with American teachers and students both individually and organizationally.
• Setting up an agreement of collaboration to establish and empower VTSEP.
2. Main Activities:
• Introduction: Sharing pictures of exchange program participants, school activities, cultural events and interesting objects.
• Cross Culture Understanding: Exchanging Cultural values, customs and life styles of people living in both countries; Indonesia and America.
• Discussing about American and Indonesian education systems in general.
• Discussing about schooling systems; facilities, teachers, students, curriculum, school regulations, dressing codes, tuition fee, examinations, extracurricular activities, parents’ involvement in school funding, teachers’ salary, teachers’ associations or federations, students’ union, etc.
• Sharing ideas about general issues commonly discussed by people in both country; Indonesia and America, and
• Other Free-Topic Discussions.
C. OCTOBER 2010: PROJECT EVALUATION
1. Surveying project outcomes, and
2. Asking for Feedbacks from participants for project improvement.
At present I am still working on completing proposal [guidelines] of the project. If any of you find it interesting and have ideas to make it better, please feel free to write me back. Your ideas are highly appreciated. For Staff Member of Civic Initiative, would you please do me a favor to let teachers and students in Amherst and around know this project ? I’ve also made initial contacts through emails and let American teachers, students and interested parties we have worked with in the Civic Initiative program know about it.
Any ideas and comments shall be addressed to www.civicinitiative.blogspot.com. If anybody has not had access or think it’s not a good idea to sent them to the link, please feel free to do so to the following email addresses; syamsul_etc@yahoo.com or szarnuji@yahoo.com. Thank you for your help and kind attention. I’m looking forward to hearing from and working with you soon !
Regards,
Syamsul Aematis Zarnuji
The 2006 & 2009 US Department of State Program Alumnus.
Office :
SMK Negeri 1 Balikpapan, Jl. Marsma R. Iswahyudi No. 1 Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia 76115
Telephone : +62 542 761 941
Facsimile : +62 542 761 985
E-mail : pubaffairs.smkn1bpn@yahoo.com
Website : http://www.smkn1-bpn.sch.id/
There will be two groups of teachers-students expected to participate in this project; teachers-students reside in Balikpapan, Indonesia and those living in Amherst, USA. Through VIRTUAL TEACHERS & STUDENTS EXCHANGE PROGRAMS (VTSEP), those two groups will interactively share and discuss about particular topics ranging from cultures, customs, politics, life styles, arts, history, education, technology as well as teaching and learning materials one to another. Besides that, they will also participate in some workshops on ICT-Based Active Learning and Teaching (IBALT). This program is compulsory especially for those who have not had adequate skills in joining the VTSEP.
To reach the final goal of this project, all primary program activities are designed in order to lead each participant to study best practices of using ICT and using them for better learning and teaching while promoting self awareness about country’s heritages belong to both sides. All program activities and time frames of the project are outlined as follows;
A. NOVEMBER – DECEMBER 2010: PRELEMINARY PREPARATION
1. Proposal Finalization.
2. Making project exposures and publications.
3. Founding and declaring the foundation of BALIKPAPAN ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGE (BALIBALING).
4. Making preliminary contacts with teachers and students in Amherst, USA.
5. Proposing the project to the US Department of State for program financing support.
B. JANUARY-FEBRUARY 2011: WORKSHOPS ON ICT-BASED ACTIVE LEARNING AND TEACHING.
1. BASIC PROGRAM: Using Word processing, Spread Sheet, Internet and Electronic Mails [E-mails].
2. INTERMEDIATE PROGRAM: Using Power Point, Front Page, Intranet [LAN], E-mailing Group and Weblog.
3. ADVANCED PROGRAM: Using Pinnacle, Photoshop and making simple website to design and publish on and off-line learning and teaching materials.
C. MARCH-SEPTEMBER 2010: CONDUCTING VIRTUAL TEACHERS & STUDENTS EXCHANGE PROGRAM (VTSEP).
1. Preliminary Activities:
• Making further contacts with American teachers and students both individually and organizationally.
• Setting up an agreement of collaboration to establish and empower VTSEP.
2. Main Activities:
• Introduction: Sharing pictures of exchange program participants, school activities, cultural events and interesting objects.
• Cross Culture Understanding: Exchanging Cultural values, customs and life styles of people living in both countries; Indonesia and America.
• Discussing about American and Indonesian education systems in general.
• Discussing about schooling systems; facilities, teachers, students, curriculum, school regulations, dressing codes, tuition fee, examinations, extracurricular activities, parents’ involvement in school funding, teachers’ salary, teachers’ associations or federations, students’ union, etc.
• Sharing ideas about general issues commonly discussed by people in both country; Indonesia and America, and
• Other Free-Topic Discussions.
C. OCTOBER 2010: PROJECT EVALUATION
1. Surveying project outcomes, and
2. Asking for Feedbacks from participants for project improvement.
At present I am still working on completing proposal [guidelines] of the project. If any of you find it interesting and have ideas to make it better, please feel free to write me back. Your ideas are highly appreciated. For Staff Member of Civic Initiative, would you please do me a favor to let teachers and students in Amherst and around know this project ? I’ve also made initial contacts through emails and let American teachers, students and interested parties we have worked with in the Civic Initiative program know about it.
Any ideas and comments shall be addressed to www.civicinitiative.blogspot.com. If anybody has not had access or think it’s not a good idea to sent them to the link, please feel free to do so to the following email addresses; syamsul_etc@yahoo.com or szarnuji@yahoo.com. Thank you for your help and kind attention. I’m looking forward to hearing from and working with you soon !
Regards,
Syamsul Aematis Zarnuji
The 2006 & 2009 US Department of State Program Alumnus.
Office :
SMK Negeri 1 Balikpapan, Jl. Marsma R. Iswahyudi No. 1 Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia 76115
Telephone : +62 542 761 941
Facsimile : +62 542 761 985
E-mail : pubaffairs.smkn1bpn@yahoo.com
Website : http://www.smkn1-bpn.sch.id/
MENGAPA GURU SWASTA MAU MENJADI GURU PNS ?
'PEMERINTAH OGAH ANGKAT GURU SWASTA MENJADI PNS'. Begitulah bunyi judul sebuah posting di salah satu milis yang saya ikuti yang di forward dari http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=69540\
Saya tidak begitu tertarik menanyakan mengapa pemerintah ogah mengangkat guru swasta menjadi guru PNS, sebaliknya, saya begitu penasaran ingin mengetahui alasannya mengapa kawan-kawan guru swasta tersebut ingin menjadi guru PNS. Sejauh yang saya amati dan pelajari dari berbagai diskusi dengan mereka [minimal di lingkungan terdekat saya], mereka ingin bahkan telah memutuskan untuk 'berubah haluan' karena sebuah alasan klasik yang tidak lepas dari urusan 'piring' 'mulut' dan 'perut'. Mereka selalu saja mengatakan "saya tidak memiliki jaminan kesejahteraan apapun untuk bertahan di sekolah ini" ketika ditanya mengapa anda ingin atau memutuskan 'mengubah haluan' menjadi guru PNS. Bahkan salah seorang teman saya yang istrinya pernah menjadi salah satu tim kerja saya di sebuah sekolah swasta di kota Balikpapan rela meninggalkan posisinya sebagai guru swasta di salah satu SMK 'favorit' di Balikpapan untuk kemudian beralih menjadi guru PNS SD di sebuah desa terpencil di Kaltim. Tidak hanya yang bersangkutan, ternyata hampir separo dari guru-guru yang mengajar di SMK 'favorit' tersebut disekitar tahun 2002-2003-an telah 'berimigrasi' menjadi guru PNS di beberapa daerah pemekaran yang cukup terpencil dengan akses tranportasi terbatas di Kaltim. Untuk sekedar mendapat jaminan kesejahteraan yang mereka impikan tersebut, sebagian dari mereka mengaku rela meninggalkan anak istrinya di Balikpapan dan memilih untuk berdomisili di dua tempat secara bergantian. Testimoni ini mencuat ke permukaan ketika pada suatu ketika kami melaksanakan kegiatan Reuni Guru dan Siswa beberapa waktu yang lalu.
Apa yang telah dilakukan kawan-kawan guru swasta ini mungkin saja di alami oleh guru-guru swasta lainnya di daerah lain. Mereka memutuskan untuk 'hijrah' atau setidaknya berkeinginan untuk 'hijrah' dari status pekerjaan lamanya sebagai guru swasta menjadu guru PNS karena sekolah swasta dimana mereka bekerja tidak mampu, bahkan lebih kejam lagi, TIDAK MAU menjamin kesejahteraan hidup guru-gurunya. Saya menulis kata 'TIDAK MAU' dengan huruf besar supaya para pengelola sekolah swasta yang sejatinya mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi guru-gurunya dapat melihat kenyataan serta tergerak hatinya untuk berbenah dan beritrospeksi bahwa apa yang diperoleh dari sekolah yang dikelolanya merupakan buah dari apa yang telah dilakukan oleh guru-gurunya. Para pengelola sekolah swasta yang diberi kewenangan untuk menghimpun berbagai sumberdaya dari berbagai asal; pemerintah, masyarakat dan siapa saja yang dengan sendirinya memberikan mereka ruang gerak yang lebih luas dan leluasa untuk mengelola sumberdaya tersebut bagi kesejahteraan gurunya harus mau mengubah cara pandangnya dengan menempatkan guru-gurunya sebagai pilar utama penopang kegiatan pengelolaan sekolah yang dilaksanakannya, bukan sebagai wahana apalagi 'obyek perahan' dari sebuah keserakahan. Dengan demikian mereka layak mendapatkan jaminan kesejahteraan yang memadai atas peran yang dimainkannya tersebut.
Jadi kalau pemerintah enggan mengangkat kawan-kawan guru swasta menjadi guru PNS, seharusnya hal ini bisa menjadi bahan introspeksi para pengelola sekolah swasta dengan cara bertanya pada diri mereka mengapa kawan-kawan guru swasta tersebut berkehendak meninggalkan mereka. Sudahkah mereka memberi jaminan kesejahteraan kepadanya dan keluarga yang menjadi tanggungannya ? Semoga !
Salam Pendidikan,
Syamsul Aematis Zarnuji
Saya tidak begitu tertarik menanyakan mengapa pemerintah ogah mengangkat guru swasta menjadi guru PNS, sebaliknya, saya begitu penasaran ingin mengetahui alasannya mengapa kawan-kawan guru swasta tersebut ingin menjadi guru PNS. Sejauh yang saya amati dan pelajari dari berbagai diskusi dengan mereka [minimal di lingkungan terdekat saya], mereka ingin bahkan telah memutuskan untuk 'berubah haluan' karena sebuah alasan klasik yang tidak lepas dari urusan 'piring' 'mulut' dan 'perut'. Mereka selalu saja mengatakan "saya tidak memiliki jaminan kesejahteraan apapun untuk bertahan di sekolah ini" ketika ditanya mengapa anda ingin atau memutuskan 'mengubah haluan' menjadi guru PNS. Bahkan salah seorang teman saya yang istrinya pernah menjadi salah satu tim kerja saya di sebuah sekolah swasta di kota Balikpapan rela meninggalkan posisinya sebagai guru swasta di salah satu SMK 'favorit' di Balikpapan untuk kemudian beralih menjadi guru PNS SD di sebuah desa terpencil di Kaltim. Tidak hanya yang bersangkutan, ternyata hampir separo dari guru-guru yang mengajar di SMK 'favorit' tersebut disekitar tahun 2002-2003-an telah 'berimigrasi' menjadi guru PNS di beberapa daerah pemekaran yang cukup terpencil dengan akses tranportasi terbatas di Kaltim. Untuk sekedar mendapat jaminan kesejahteraan yang mereka impikan tersebut, sebagian dari mereka mengaku rela meninggalkan anak istrinya di Balikpapan dan memilih untuk berdomisili di dua tempat secara bergantian. Testimoni ini mencuat ke permukaan ketika pada suatu ketika kami melaksanakan kegiatan Reuni Guru dan Siswa beberapa waktu yang lalu.
Apa yang telah dilakukan kawan-kawan guru swasta ini mungkin saja di alami oleh guru-guru swasta lainnya di daerah lain. Mereka memutuskan untuk 'hijrah' atau setidaknya berkeinginan untuk 'hijrah' dari status pekerjaan lamanya sebagai guru swasta menjadu guru PNS karena sekolah swasta dimana mereka bekerja tidak mampu, bahkan lebih kejam lagi, TIDAK MAU menjamin kesejahteraan hidup guru-gurunya. Saya menulis kata 'TIDAK MAU' dengan huruf besar supaya para pengelola sekolah swasta yang sejatinya mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi guru-gurunya dapat melihat kenyataan serta tergerak hatinya untuk berbenah dan beritrospeksi bahwa apa yang diperoleh dari sekolah yang dikelolanya merupakan buah dari apa yang telah dilakukan oleh guru-gurunya. Para pengelola sekolah swasta yang diberi kewenangan untuk menghimpun berbagai sumberdaya dari berbagai asal; pemerintah, masyarakat dan siapa saja yang dengan sendirinya memberikan mereka ruang gerak yang lebih luas dan leluasa untuk mengelola sumberdaya tersebut bagi kesejahteraan gurunya harus mau mengubah cara pandangnya dengan menempatkan guru-gurunya sebagai pilar utama penopang kegiatan pengelolaan sekolah yang dilaksanakannya, bukan sebagai wahana apalagi 'obyek perahan' dari sebuah keserakahan. Dengan demikian mereka layak mendapatkan jaminan kesejahteraan yang memadai atas peran yang dimainkannya tersebut.
Jadi kalau pemerintah enggan mengangkat kawan-kawan guru swasta menjadi guru PNS, seharusnya hal ini bisa menjadi bahan introspeksi para pengelola sekolah swasta dengan cara bertanya pada diri mereka mengapa kawan-kawan guru swasta tersebut berkehendak meninggalkan mereka. Sudahkah mereka memberi jaminan kesejahteraan kepadanya dan keluarga yang menjadi tanggungannya ? Semoga !
Salam Pendidikan,
Syamsul Aematis Zarnuji
PUASA, IMAN DAN TAKWA : SEBUAH PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahiim.
Alhamdulillahirabbil’alamiin. Wassalatuwassalatuwassalamu’alaa asyrafilambyaa iwalmursalin. Wa’ala alihi wasahbihi ajma’in. Ammaba’du.
Para Pembaca Rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kenikmatan berupa umur panjang, kenikmatan sehat dan keteguhan iman yang membuat kita masih mampu menjalankan ibadah puasa di hari ketiga ini. Shalawat dan salam juga kita khaturkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, para sahabat serta pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.
Tidak terasa kita telah melampaui 3 (tiga) hari ibadah puasa di bulan Ramadhan 1431 H ini. Demikian juga, seringkali kita tidak merasa bahwa apa yang telah kita jalani dalam tiga hari ini adalah sebuah ritual yang sangat istimewa karena sifatnya yang rutin. Ibadah ini kita jalankan dari tahun ke tahun yang membuat kita terkadang lupa atau bahkan tidak tahu ‘rahasia’ Allah dibalik itu semua. Untuk itu, perkenankanlah kami mulai saat ini hingga akhir Ramadhan nanti, untuk berbagi ilmu tentang ‘rahasia’ dibalik ibadah shaum ini. Untuk kultum hari ketiga Ramadhan 1431 H ini, ijinkanlah kami menyampaikan sebuah kajian yang sangat mendasar dan menjadi fondasi dalam menjalankan ibadah shaum dengan judul PUASA, IMAN dan TAKWA sebagai sebuah pengantar untuk menjamah lebih jauh ‘rahasia’ Allah dibalik ibadah yang sangat istimewa ini.
Memahami ibadah saum tentu tak ubahnya memahami ilmu-ilmu keduniaan yang sering kita lalui dalam keseharian kita. Jika kita ingin mengetahui tentang ilmu perawatan kendaraan Toyota misalnya, tentu kita harus membuka dan membaca buku manual yang dikeluarkan oleh pabrik Toyota. Demikian juga halnya dengan ibadah shaum. Jika kita ingin mengetahui segala hal tentang puasa, buka dan bacalah ‘buku’ yang dikeluarkan oleh sang pemberi perintah sekaligus konseptor ibadah puasa tersebut yakni Al-Qur’anulkariim. Apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang fondasi pelaksanaan ibadah pauasa ini ? Tanpa kami membacanya, insya-Allah para jemaah sekalian sudah tahu karena ayat ini sangat sering diucapkan dalam mimbar seperti ini walaupun tidak banyak yang terpanggil untuk mengkaji lebih dalam pesan-pesan yang terkandung dalam ayat tersebut. Untuk sebuah penegasan, ijinkanlah kami membacanya kembali.
A’udzubillahiminasyaitaanirrajiim. Bismillahirrahmaanirrohiim ...
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُواْ Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِينَ Ù…ِÙ† Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. Alabaqarah Ayat 183)- dikutip dari Tafsir Ibu Katsir dalam : http://superpedia.rumahilmuindonesia.net/index.php?title=Tafsir_Ibnu_Katsir_Surah_Al_Baqarah_ayat_183
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari Surah Al-Baqarah Ayat 183 tersebut ? Apabila kita perhatikan satu persatu maknanya, sesungguhnya ayat tersebut mengandung minimal 4 (empat) hal atau pesan yang perlu difahami secara mendalam sebagai landasan untuk memahi ‘rahasia’ Allah dibalik ibadah shaum ini, yakni; 1) ALLAH sebagai PEMBERI PESAN atau PERINTAH untuk berpuasa; 2) PUASA sebagai OBYEK dari pesan tersebut; 3) BERIMAN sebagai karakteristik PENERIMA pesan; 4) BERTAKWA sebagai TUJUAN atau HASIL yang diharapkan setelah menjalankan pesan tersebut. Dengan demikian, makna yang bisa dirangkum dari ayat tersebut adalah bahwa ALLAH telah memerintahkan ORANG-ORANG yang BERIMAN untuk menjalankan ibadah PUASA agar mereka BERTAKWA.
Memperhatikan keempat hal atau pesan dalam Surah Al-Baqarah Ayat 183 tersebut, sungguh tak terbantahkan bahwa Allah Wazajallah telah meletakkan ibadah puasa ini dalam posisi yang sangat istimewa diantara ibadah-ibadah atau ritual-ritual lainnya. Coba perhatikan dari salah satu aspek saja yaitu siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah untuk melaksanakan ibadah puasa ini. Jawabnya, Allah sendiri yang langsung memberi perintah. Dalam konteks ini, Allah tidak mengutus rasulnya untuk menyampaikan perintah ini kepada semua manusia. Allah tidak mengatakan ‘yaa..aiyyuhannaas’ tetapi ‘ya.. aiyyuhalladzi na’amanu’. Allah tidak memerintah manusia atau orang sembarangan di muka bumi ini melainkan orang-orang yang beriman untuk menjalankan ibadah shaum ini. Sungguh luar biasa ! Yang memberi perintah adalah Zat Yang Maha Kuasa yang telah menciptakan langit dan bumi ini serta isinya, Zat Yang Maha Besar yang tidak akan pernah tertandingi oleh kebesaran siapapun di dunia ini, sementara yang mendapat perintah atau panggilan adalah orang-orang yang terpilih, orang-orang yang memiliki keistimewaan berupa iman yang melekat dalam dirinya. Sulit digambarkan betapa istimewanya panggilan itu. Seorang siswa dipanggil oleh kepala sekolah atau kepala sekolah dipanggil oleh kepala dinas saja untuk sebuah urusan kebaikan, tentu hal tersebut sudah menjadi sebuah prestasi yang hebat dan rasanya tak mungkin untuk menolaknya. Apalagi pangilan ini datang dari Allah Wazajallah, yang kebesarannya tak tertandingi. Sungguh menjadi sesuatu yang amat istimewa dan luar biasa.
IMAN & TAKWA
Setelah memahami bahwa perintah shaum itu ditujukan bagi orang-orang yang istimewa, orang-orang yang terpilih karena keimanan yang melekat dalam dirinya, patut kiranya kita bertanya, apakah kita ini masuk dalam golongan orang-orang yang beriman ? Untuk menjawabnya tentu kita harus mengetahui terlebih dahulu apakah iman itu dan seperti apakah ciri-ciri orang yang beriman ?
Dalam Kitab At Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al ‘Aali, hal. 9 yang kami kutif dari Kolom Dakwah Tauhid versi online di http://abu0mushlih.wordpress.com/2008/12/28/definisi-iman/, iman itu dimaknai sebagai pembenaran hati, pengakuan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota badan atas segala aturan, perintah dan ajaran yang diturunkan oleh Allah SWT atau dibawa oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dengan demikian, seseorang dapat dikatakan beriman manakala ia meyakini kebenaran segala aturan, perintah dan ajaran yang diturunkan oleh Allah SWT atau dibawa oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW lalu mengikrarkan secara lisan dan melaksanakannya. Bentuk pengejawantahan ikrar lisan ini berupa ucapan dua kalimat syahadat ‘asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’. Sedangkan bentuk pengejawantahan dengan anggota badan berupa kegiatan melakukan ibadah-ibadah yang diperintahkanNya serta menjauhi laranganNya. Jadi dalam bahasa yang sederhan seseorang dikatakan beriman ketika ia mampu mengejewantahkan ketiga kriteria tersebut; 1) meyakini kebenaran ajaran Allah dan Rasulnya; 2) mengikrarkan keyakinannya atas hal tersebut; dan 3) menjalankan apa yang diyakininya itu.
Selain beriman sebagai sebuah karakteristik orang yang menerima perintah shaum dari Allah SWT yang kemudian membuat eksistensi ibadah puasa ini menjadi berbeda dan diistimewakan diantara ibadah-ibadah lainnya, pelaksanaan ibadah puasa dimaksudkan untuk menumbuhkan, bahkan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Orang-orang yang beriman diperintahkan untuk menjalankan ibadah shaum ini dengan tujuan agar mereka bertakwa. Lalu apakah takwa itu ? Bagaimana ciri-ciri orang yang bertakwa ?
Baik Imam An-Nawawi, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani maupun Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang kami kutif dalam sebuah situs on-line: http://blog.re.or.id/takwa-2.htm, memaknai takwa sebagai sebuah sikap dan tindakan yang mencerminkan ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah SWT. Seseorang yang bertakwa akan terlihat dari sikap dan tingkah lakunya yang selalu menjalankan apa saja yang diperintahkan dan meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah SWT. Berdasarkan uraian ini, dapat disimpulkan bahwa karakteristik seseorang yang bertakwa sejatinya dimiliki juga oleh seseorang yang beriman karena pada dasarnya takwa tersebut merupakan buah dari keimanan yang dimiliki oleh seseorang. Dengan ibadah puasa, sebagaimana tersurat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 183, seseorang yang telah memiliki keimanan kepada Allah SWT dan RasulNya diharapkan mampu menjadi seorang hamba yang bertakwa yaitu hamba yang selalu menjalankan segala perintahNya dan meninggalkan apapun yang dilarangNya. Dengan ibadah puasa yang telah kita jalankan selama 3 (tiga) hari ini dapat menjadi pemantik berkobarnya api ketakwaan dalam diri kita dan insyaAllah kita semua akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bertakwa. Amien Ya. Rabbal’alamien.
Demikianlah yang bisa kami sampaikan pada kesempatan yang mulia ini. Semoga dengan pemahaman yang lebih dalam tentang ibadah puasa ini, kita bisa menjadkannya sebagai landasan untuk menggali dan mengetahui ‘rahasia’ Allah dibalik perintah ibadah tersebut. Tentu yang lebih penting lagi kami berharap hal ini bisa menjadi motivasi bagi kita semua untuk melaksanakan ibadah puasa sebaik-baiknya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Bila dalam penyampaian kami ini terdapat kesalahan atau kehilafan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Balikpapan, 3 Ramadhan 1431 H/13 Agustus 2010 M
Penulis/Penceramah,
Syamsul A’immatiz Zarnuji
Friday, April 03, 2009
Mengapa Memilih 'Contreng' ?

Hampir setiap spanduk, baliho, leflet, brosur dan berbagai jenis media sosialisasi pemilu lainnya selalu saja mencantumkan kata ‘contreng’ dalam beberapa bulan terakhir ini. Demikian juga dalam berbagai pertemuan sosialisasi pemilu yang digelar oleh berbagai ormas dan instansi pemerintah. Setiap petugas yang menjelaskan tata cara pemilu selalu saja menyebut kata ‘contreng’ ini. Saking ‘demam’ dengan kata yang satu ini, salah satu statusun TV swasta nasional mengemas kata ini dalam sosok tokoh Mang Contreng yang kocak dan menggelitik dengan dialek Sunda-nya yang khas. Walaupun saban hari saya membaca dan mendengarnya, kata ‘contreng’ ini kok nggak bersahabat dengan mata dan telinga saya. Setiap membaca atau mendengarnya, selalu saja ada perasaan yang mengganjal. Apakah sudah benar kata ‘contreng’ ini dipakai dalam konteks yang diinginkan KPU dalam sosialisasi yang dilaksanakannya itu ? Setahu saya, tak pernah satupun guru bahasa Indonesia saya memperkenalkan kata ini baik ketika saya SD, SMP, SMA maupun ketika mengambil mata kuliah bahasa Indonesia di bangku kluiah dulu. Yang saya tahu hanya ‘centang’ atau ‘conteng’. Kalau pertimbangan pengguna memilih kata ’contreng’ itu karena kata tersebut merupakan kata bentukan yang berasal dari ‘conteng’, pun hal tersebut tak sepenuhnya benar mengingat makna kata ‘conteng’ sendiri tidak sama persis dengan ‘centang’ yang semestinya dipakai dalam konteks yang diinginkan KPU tersebut. Lalu, apa sih perbedaannya antara centang, conteng dan contreng ? Mengapa pengguna lebih memilih kata ‘contreng’ ? Karena penasaran, saya tanya saja sama Kang Google. Apa jawabannya ? Silahkan dibaca tulisan Tarmizi Ramadhan dalam http://tarmizi.wordpress.com/2009/03/20/contreng-centang-conteng/ berikut ini, walupun untuk alasan mengapa, saya belum puas dengannya :-)
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak ditemukan kata contreng. Kata ini populer ketika suatu lembaga (KPU) dan Parpol mensosialisasikan cara pemilihan dengan contreng. Agar tidak terjadi kesalahtafsiran, istilah contreng tergolong kata yang tidak baku. Bagi kalangan tertentu (partai politik) kata contreng mungkin tidak banyak dipersoalkan, tetapi bagi kalangan pengguna Bahasa Indonesia yang baik dan benar kata contreng belum dibenarkan. “Ada yang berpendapat bahwa yang penting rakyat mengerti. Jadi, penggunaan kata atau istilah apa pun boleh-boleh saja.” Menurut hemat penulis penggunaan contreng termasuk arbiter (semena-mena atau sesukanya) dan hanya berlaku untuk kalangan terbatas (meskipun kata itu belum dibakukan dalam Bahasa Indonesia).
Centang
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), centang memiliki makna sebagai berikut:
cen·tang /céntang/ (nomina), yang berarti ‘tanda koreksi, bentuknya seperti huruf V atau tanda cawang.’ Jika diberi awalan /me-/ menjadi men·cen·tang (verba) yang berarti ‘membubuhi coretan tanda koreksi (V);
Jika cen·tang /céntang/ dijadikan bentuk perulangan, menjadi cen·tang-pe·re·nang (ajektiva), yang berarti ‘tidak beraturan letaknya (malang melintang dsb.); porak-parik; berantakan.’ Contoh: Segalanya centang-perenang di ruangan itu .
ke·cen·tang-pe·re·nang·an (nomina), yang berarti ‘keadaan yang centang-perentang.’ Contoh: Kecentang-perenangan dalam mengatur jadwal sering terjadi jika dilakukan terburu-buru .
Kata ‘centang ’ dipakai di dalam Pasal 26 ayat (3) butir g angka 2), 3), dan 4) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2009 yang isinya, yaitu:
tata cara pemberian suara pada surat suara, ditentukan:
menggunakan alat yang telah disediakan;
dalam bentuk tanda V (centang ) atau sebutan lainnya ;
pemberian tanda V (centang ) atau sebutan lain , dilakukan satu kali pada kolom nama partai atau kolom nomor calon atau kolom nama calon anggota DPR/DPRD Provinsi/DPRD Kabupaten/Kota;
pemberian tanda V (centang) atau sebutan lain dilakukan satu kali pada foto salah satu calon anggota DPD;
Conteng
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), conteng memiliki makna sebagai berikut:
con·teng /conténg/ (nomina), yang berarti coret (palit) dengan jelaga, arang, dsb.; coreng;
ber·con·teng-con·teng (verba), yang berarti ‘ada conteng-contengnya; bercoreng-coreng (dengan arang, jelaga, dsb.).’ Contoh: Mukanya berconteng-conteng; Papan tulis itu berconteng-conteng dengan kapur.
men·con·teng (verba), yang berarti ‘mencoreng dengan arang (tinta, cat, dsb.).’ Contoh: Anak itu menconteng alisnya dengan arang; Menconteng arang di muka. (peribahasa), yang artinya ‘memberi malu.’
men·con·teng-con·teng (verba), artinya ‘mencoreng-coreng (memalit-malit, mencoret-coret) dengan arang (tinta, kapur, dsb.).’ Contoh: Anak itu menconteng-conteng dinding rumah kami .
men·con·teng·kan (verba), artinya ‘mencorengkan; memalitkan.’ Contoh: Ibarat mencontengkan arang di dahi sendiri (Peribahasa).
ter·con·teng (verba), memliki dua arti: 1. ’sudah diconteng(kan); 2. kena noda (aib, malu). Contoh: Terconteng arang di muka. (Peribahasa), yang artinya ‘mendapat malu.’
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa “contreng“ termasuk istilah belum baku. Menurut hemat penulis kata “contreng“ ini baru muncul pada saat seseorang memberikan sosialisasi menjelang Pemilu 2009. Hal ini terjadi karena di dalam Pasal 26 ayat (3) butir g angka 2) dan 3) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2009 memungkinkan seseorang menggunakan sebutan lainnya . Oleh karena itu, muncullah istilah contreng. Oleh sebagian orang, hal itu turut dibenarkan dan turut pula disosialisasikan kepada masyarakat, padahal dalam Bahasa Indonesia maknanya belum ditemukan. (Red: tantangan bagi Penyusun Kamus Bahasa Indonesia).
Kata “centang“ merupakan istilah yang baku. Tanda “centang“ berarti pula memberikan tanda check atau tanda koreksi (V). Jika di dalam pemilihan umum nanti yang dimaksdukan memberi tanda check atau tanda koreksi (V) pada nomor atau angka seorang calon maka pemakaian kata “centang“ lebih tepat digunakan.
Kata “conteng“ memang tergolong kata baku, namun kata “conteng“ kurang tepat jika dipakai dalam konteks Pemilihan Umum 2009, sebab akan banyak bentuk coretan yang dilakukan masyarakat. Secara etimologi ‘conteng’ berarti coret. Yang dimaksud dengan coret dapat berarti memberi tanda check (V), silang (X), = (sama dengan), atau coreng dengan tinta, arang, atau apa saja.
Wednesday, August 27, 2008
SELAMAT ATAS PELANTIKAN DIREKTUR BARU POLITEKNIK BALIKPAPAN !
Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya pagi ini Rabu 27 Agustus 2008 jam 10.45 Wita, Direktur baru Politeknik Balikpapan dilantik secara resmi oleh Walikota Balikpapan. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Walikota Balikpapan juga melantik pengurus Dewan Industri Bidang Pendidikan Kota Balikpapan.
Dalam pidato pengantar tugas yang disampaikan oleh Walikota Balikpapan, beliau dengan tegas dan jelas menyampaikan kalau penyelenggarakan pendidikan vokasi menjadi salah satu solusi terbaik dalam menangani masalah ketenagakerjaan di Balikpapan. SMK sebagai dapur utama pengolahan bahan baku tenaga kerja agar menjadi siap pakai memegang peranan yang amat signifikan dalam menyelesaikan permasalahan ketenagakerjaan tersebut. Ini diperkuat dengan sebuah argumentasi bahwa sebagian besar pencari kerja [job seeker] di Balikpapan adalah mereka yang berusia setara usia lulusan SLTA. Kantor Statistik Kota Balikpapan tahun 2007 melansir data bahwa 65 % dari pencari kerja tersebut adalah mereka yang memiliki usia lulusan SLTA. Oleh karenanya beliau sangat berharap agar penyelenggaraan pendidikan kejuruan terutama tingkat SLTA perlu diperkuat dengan meningkatkan kualitas dan relevansi outputnya. Dalam konteks ini, Walikota Balikpapan meminta Dewan Industri untuk berperan aktif dalam memediasi dan memberikan asistensi bagi terwujudnya hal tersebut.
Dalam kesempatan yang sangat khidmat tersebut, beliau juga menyampaikan kalau saat ini Raperda Politeknik Balikpapan sedang dalam proses penggodokan oleh DPRD Kota Balikpapan. Saya, anda dan kita semua tentu berharap semoga Raperda ini segera berubah wujud menjadi Perda. Dengan demikian, keberpihakan pemerintah kota Balikpapan terhadap politeknik balikpapan tidak lagi menjadi bahan sorotan masyarakat. Dengan Perda ini segala bentuk pembiayaan dan kebijakan-kebijakan lainnya yang bisa jadi dinilai oleh masyarakat terlalu memihak bisa dipertanggungjawabk an akuntabilitasnya. Inilah salah satu yang dulu diawal pendirian politeknik balikpapan ini kita perjuangkan secara bersama-sama melalui wadah Forum Dosen. Mudah-mudahan kawan-kawan semua senang mendengar kabar ini dan mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama lagi eksistensi Politeknik Balikpapan ini tidak perlu lagi dipertanyakan.
Akhirnya, dalam suasana yang baru ini dan dengan segala kerendahan hati saya mengucapkan Selamat atas telah dilantiknya Direktur Baru Politeknik Balikpapan. Selamat datang di SMART CAMPUS pak ! Semoga apa yang akan bapak berikan bagi kemajuan politeknik balikpapan ini menjadi amal jariyah untuk selama-lamnya.
wassalam,
syamsul aematis zarnuji
Staf Pengajar Bahasa Inggris Politeknik Balikpapan
Pengurus Dewan Industri Bidang Pendidikan Kota Balikpapan
http://www.zarnuji.blogspot.com/
http://aa.mc508.mail.yahoo.com/mc/compose?to=szarnuji@yahoo.com
0811 531 471
Sunday, August 24, 2008
ALCoB INTERNET VOLUNTEER 2008 DI BALIKPAPAN
Dari susunan acara yang tercantum dalam undangan, tampak sekali kalau acara pembukaan ini diracik cukup apik mulai dari hal-hal yang berbau hiburan hingga yang agak serius. Untuk urusan entertaintment, panitia pelaksana akan menampilkan berbagai lagu-lagu nasional baik dari Indonesia maupun Korea. Balikpapan sebagai tuan rumah juga tidak mau kalah dengan menampilkan lagu himne balikpapan, sebuah lagu wajib warga kota Balikpapan yang selalu dilantunkan pada berbagai even di kota minyak tersebut. Untuk urusan yang agak serius, Ketua Panitia lokal akan menyampaikan pidato selamat datang dan laporan singkat mengenai kegiatan tersebut. Setelah itu akan disusul oleh .... bersambung.......
Monday, August 18, 2008
SEBUAH REFLEKSI : SEKOLAH "KOTAK SABUN" YANG ISTIMEWA
Terus terang, saya sangat salut sekaligus 'iri' melihat kemajuan yang diraih oleh SMK TI Samarinda. Sejak saya belum bergabung dengan 'saudara tuanya' di Balikpapan saya telah menjadi pengamat setia sekolah ini. Saya benar-benar kepincut dengan prestasi yang diraih selama ini. Berulang kali saya bertanya, apa sih 'resep' mereka [baca:pengelolanya] sehingga sekolah tersebut bisa seperti ini ? Tapi sampai saat ini saya belum menemukan 'resep' yang jitu itu.
Ketika beberapa kali saya ditugasi menjadi juri LKS Tingkat Nasional, saya sering ketemu dengan guru pendamping siswa-siswinya yang mewakili Kaltim pada event tersebut. Karena saya pengamat setia sekolah 'kotak sabun' tersebut saya coba cari tau rahasianya. Dari cara bicara dan isi pembicaraannya, saya bisa memastikan kalau guru-guru di sekolah yang juga dijuluki 'lorong penjara' tersebut bukan orang biasa. Mereka begitu PD, trengginas dan selalu mencerminkan rasa bangga atau setidaknya aura kebanggaan itu muncul dari wajah mereka ketika mereka memposisikan dirinya sebagai guru di sekolah tersebut. Dalam pandangan saya, mereka begitu 'smart', 'dedicated' dan kecerdasan itu mereka tumpahkan sepenuhnya bagi sekolah mereka. Sungguh sebuah dedikasi dan totalitas yang jarang saya temui pada kawan-kawan guru yang lainnya. Inilah hipotesa sementara saya saat itu bahkan sampai saat ini, tentang resep jitu mengapa sekolah yang dikomandani oleh seorang jebolan amerika tersebut bisa seperti sekarang ini.
Ketika beberapa kali saya ditugasi menjadi juri LKS Tingkat Nasional, saya sering ketemu dengan guru pendamping siswa-siswinya yang mewakili Kaltim pada event tersebut. Karena saya pengamat setia sekolah 'kotak sabun' tersebut saya coba cari tau rahasianya. Dari cara bicara dan isi pembicaraannya, saya bisa memastikan kalau guru-guru di sekolah yang juga dijuluki 'lorong penjara' tersebut bukan orang biasa. Mereka begitu PD, trengginas dan selalu mencerminkan rasa bangga atau setidaknya aura kebanggaan itu muncul dari wajah mereka ketika mereka memposisikan dirinya sebagai guru di sekolah tersebut. Dalam pandangan saya, mereka begitu 'smart', 'dedicated' dan kecerdasan itu mereka tumpahkan sepenuhnya bagi sekolah mereka. Sungguh sebuah dedikasi dan totalitas yang jarang saya temui pada kawan-kawan guru yang lainnya. Inilah hipotesa sementara saya saat itu bahkan sampai saat ini, tentang resep jitu mengapa sekolah yang dikomandani oleh seorang jebolan amerika tersebut bisa seperti sekarang ini.
Makanya, ketika setahun yang lalu saya diberi kesempatan untuk menangani 'saudara tuanya' di Balikpapan, salah satu impian besar saya adalah mengikuti jejak 'adik kandungnya' yang sampai saat ini masih menjadi buah bibir para praktisi pendidikan SMK di Kalimantan Timur. Langkah saya yang pertama tentu sejalan dengan hipotesa yang telah saya buat terkait resep jitu yang dipakai SMK TI Samarinda dalam melecut prestasi sekolahnya. Apalagi kalau bukan DEDIKASI dan TOTALITAS dari seluruh elemen, terutama para guru yang terlibat dalam sekolah yang baru saja saya tangani tersebut. Saya benar-benar tergoda untuk menerapkan hipotesa itu dan melihat seluruh karyawan dan guru saya dengan penuh dedikasi dan totalitas melayani siswa-siswinya untuk sebuah prestasi yang gemilang. Saya ingin sekali melihat para guru saya begitu bangga menyebut dirinya sebagai guru SMK Airlangga Balikpapan. Saya mimpi melihat mereka tampil cerdas, trengginas dan penuh dedikasi. Dengan demikian saya bisa berharap banyak kepada mereka untuk mau memberikan apa saja yang bisa diberikan untuk kemajuan prestasi siswa-siswinya. Saya mimpi melihat mereka datang ke sekolah sebelum siswa-siswinya tiba di sekolah dan pulang setelah siswa-siswinya meninggalkan gerbang sekolah. Saya juga mimpi melihat guru-guru saya melakukan hal yang sama seperti yang telah saya lakukan; menyambut siswa-siswinya dengan senyuman di ujung gerbang sekolah, tak henti-hentinya memompa motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik selama mengikuti pelajarn di sekolah dan mengantarnya kembali ke tempat itu saat mereka pulang. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa !
Pertanyaanya, bagaimana membuat agar guru-guru saya mau melakukan itu semua ? Apa gerangan yang perlu dilakukan agar mereka tampil seperti persepsi saya terhadap guru-guru sekolah 'kotak sabun' itu; begitu bangga dengan keberadaannya, cerdas, trengginas, penuh dedikasi dan totalitas ? Setahun ini berbagai terobosan telah dilakukan. Tapi hasilnya belum begitu menggembirakan. Mungkin terlalu singkat untuk mengukur sebuah keberhasilan, apalagi parameternya sebuah perubahan sikap. Saya percaya, perubahan itu pasti akan tampak pada saatnya nanti sepanjang pengambil kebijakan tertinggi mau dan tetap mendukung terobosan-terobosan yang telah dan akan dilakukan. Namun sayang, saya tidak berada pada posisi tersebut.
Balikpapan, 19 Agustus 2008
Syamsul Aematis Zarnuji
Monday, March 10, 2008
Reuni Kecil Kecilan
Selain makna liriknya yang bisa mewakili perasaan saya ketika itu, lagu Antara Anyer dan Jakarta itu juga bisa sedikit merefleksikan betapa jauhnya perjalanan yang saya lalui untuk reuni tersebut. Memang saya tidak melakukan perjalanan dari Anyer ke Jakarta, tetapi dari Balikpapan ke Mataram. Bersambung ....
Tuesday, February 12, 2008
A SKRIPSI OR A THESIS ?
Sudah sangat lazim tentunya bagi setiap mahasiswa yang baru belajar menulis ilmiah atau mau menulis skripsi untuk selalu melihat atau mempelajari model-model skripsi yang telah ditulis oleh kakak-kakak tingkat kita sebelumnya. Biasanya dari melihat-lihat atau sekedar membaca judul skripsi itu kita mendapatkan ide untuk meneliti sesuatu yang baru yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan skripsi. Maka suatu ketika saya datanglah ke perpustakaan untuk membongkar koleksi berbagi jenis skripsi tersebut. Karena jurusan saya bahasa Inggris, maka skripsi-skripsi yang ditulis dalam bahasa Indonesia saya singkirkan. Saya hanya mengumpulkan skripsi-skripsi yang ditulis dalam bahasa Inggris. Selanjutnya setiap kali saya membuka skripsi-skripsi itu saya selalu mulai dengan membaca halaman judulnya. Saya berharap dengan membaca judul-judul skripsi tersebut saya bisa memporoleh inspirasi baru untuk menentukan bidang apa yang mau saya teliti atau tulis.
Harapan saya terkabul setelah berminggu-minggu saya 'mengobrak abrik' tumpukan skripsi-skripsi itu. Sebuah skripsi dengan judul "A Descriptive Study on Students' Errors in Pronuncing Fricative Consonants in English" tulisan Nasyirul Khairi telah menginspirasikan saya untuk meneliti hal yang hampir sama. Kalau Nasyirul Kahiri memfokuskan penelitiannya pada kesalahan mengucapkan konsonan-konsonan frikatif dalam bahasa Inggris maka saya menyoroti kesalahan menggunakan 'copula' dalam bahasa Inggris tertulis. Filosfi yang menadasari hal tersebut tidak berbeda, sama-sama berangkat dari sebuah asumsi Fries dan Lado dalam melihat bagaimana bahasa yang satu dan yang lainnya saling mempengaruhi [language interference].
Singkat cerita, mulailah saya meneliti dan menulis dengan modal yang sangat terbatas-baik modal finasial maupun modal ilmu tentang penelitian dan penulisan ilmiah. Dari pembuatan proposal hingga pelaksanaan penelitian, saya hampir tidak menemukan masalah yang berarti. Saya selalu bisa melewatinya dengan suasana yang cukup menyenangkan. Apa yang saya tuangkan dalam konsep rencana penelitian tersebut selalu mendapat persetujuan dari ketiga dosen pembimbing saya. Demikian pula dengan proses ijin penelitian dan pelaksanaannya.
Tapi perasaan menyenangkan ini tidak bertahan begitu lama. Masalah mulai muncul ketika penulisan laporan hasil penelitian yang diwujudkan dalam bentuk skripsi tersebut mulai saya kerjakan. Ketika saya datang untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing utama saya, salah satu kata dari judul skripsi tersebut harus diubah. Kata yang tadinya tertulis ‘THESIS’ harus diganti dengan ‘SKRIPSI’. Pada mulanya saya sangat keberatan karena semua skripsi kakak-kakak tingkat saya di FKIP yang sudah pernah saya baca saat itu selalu menyebut skripsi dengan ‘thesis’. Tak satupun dari skripsi-skripsi itu bertuliskan A SKRIPSI di halaman sampul atau judulnya, tetapi selalu ditulis A THESIS. Fakta ini saya sampaikan kepada dosen pembimbing utama saya tersebut tetapi beliau tetap bersikeras meminta saya untuk menggantikannya padahal saya juga sudah menjelaskan kalau ‘skripsi’ itu kata dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris.
Ketika draf skripsi saya tersebut telah jadi dan siap diujikan, saya kembali datang kepada dosen pembimbing utama saya tersebut untuk melakukan konsultasi untuk kesekian kalinya. Bagian judul tidak saya ubah karena mustahil bagi saya untuk menuliskan A SKRIPSI di halaman karya tulis saya yang berbahasa inggris tersebut. Tapi kenekatan saya itu menjadi bumerang bagi saya. Beliau mengancam tidak akan pernah mau menandatangani skripsi tersebut jika kata A THESIS masih juga dicantumkan dalam karya tulis tersebut walaupun semua skripsi berbahasa Inggris kakak-kakak tingkat saya di FKIP yang pernah saya baca waktu itu dinamakan A THESIS. Dalam kondisi terpojok saya juga belum mau menyerah walaupun ketika berhadapan dengan beliau saya mengatakan kalau kata tersebut akan saya ganti dengan A SKRIPSI.
Sebenarnya saya sudah tau kalau ‘thesis’ itu diperuntukkan sebagai persyaratan kelulusan mahasiswa pada program paska sarjana tapi saya juga tidak tahu pasti apa istilah bahasa Inggris yang paling tepat untuk menggantikan skripsi tersebut. Dosen pembimbing utama saya juga tidak memberikan alternatif lain selain A SKRIPSI. Demikian pula dengan pembimbing yang lainnya yang cenderung mengiyakan apa yang disampaikan oleh dosen pembimbing utama saya. Karena tidak punya pilihan lain akhirnya jadilah karya tulis itu dinamakan A SKRIPSI bukan A THESIS atau A … yang lainnya. Inilah karya saya yang paling monumental dalam pekerjaan menulis yang pernah saya lakukan. Bagimana kawan-kawan lainnya ? Mungkian ada pengalaman menarik soal ini ?
Thursday, February 07, 2008
ETC DAN MASA DEPANNYA - Bagian 1

A. PENGANTAR
Setelah lebih dari setengah dekade menjadi bagian dari sebuah sistem per-ETC-an dengan berbagai kegiatan, masalah dan tantangan yang dihadapinya, diskursus tentang tugas, fungsi dan peran serta masa depan ratusan ETC [baca : English Testing Center] di Indonesia patut kiranya didiskusikan. Penggantian nama dan fungsi ETC menjadi SPT sejak setahun yang lalu tentu memunculkan berbagai pertanyaan. Tidak cukup signifikankah keberadaan dan peran yang dimainkan oleh ETC dalam mewarnai sistem pembelajaran bahasa Inggris kita selama ini ? Seperti apakah sebaiknya ETC ini dikembangkan seiring dengan diterapkannya kebijakan baru pemerintah dalam sistem pendidikan nasional kita ?
B. ETC LEBIH DARIPADA SEKEDAR PUSAT PENGUJIAN BAHASA INGGRIS
Sejak pendirian ETC resmi dideklarasikan pada tanggal 21 September 2001 melalui surat Direkur Pendidikan Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan Nasional nomor 1691/c5.6/pp/2001, institusi yang pertama kali ditempatkan dan dijalankan oleh 40 SMK terpilih di seluruh Indonesia tersebut telah mampu melaksanakan tugas dan fungsinya lebih daripada sekedar pusat pengujian bahasa Inggris.
Dari berbagai diskusi yang dilakukan baik secara formal maupun non formal antar koordinator ETC di tanah air yang kini telah mencapai ratusan jumlahnya, menunjukkan bahwa beberapa diantaranya telah mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan tidak hanya bagi sekolah dimana ia berada tetapi juga bagi sekolah-sekolah lainnya, bahkan bagi pemerintah daerah dimana ETC tersebut berada. Kontribusi dimaksud tidak hanya dalam hal pengembangan bahasa Inggris tetapi juga telah mampu menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan para guru dan pengelolanya serta pihak-pihak lain yang terlibat di dalamnya walaupun dalam jumlah yang relatif kecil. Lebih jauh daripada itu, dalam hal pengembangan sistem pembelajaran bahasa Inggris, keberadaan ETC selama ini telah mampu menjadi ‘benang’ penghubung antara SMK-SMK di daerah dengan sistem atau subsistem pengambil kebijakan di pemerintah pusat. Dalam tataran pragmatis di luar dari fungsinya sebagai pusat pengujian bahasa Inggris, benang penghubung tersebut sesungguhnya kini telah menjadi sebuah jaringan kerja [baca: networking] antara berbagai subsimpul secara nasional dalam dunia perbahasainggrisan kita bila dilihat dalam perspektif yang luas. Melalui ETC, ratusan guru bahasa Inggris se-Indonesia, personil Depdiknas, PPPGK Sawangan, penyedia layanan tes bahasa Inggris dan berbagai institusi lainnya telah dipertemukan, berdiskusi bahkan bekerja sama dalam melaksanakan berbagai program pengembangan bahasa Inggris di tanah air. Sungguh sebuah potensi yang luar biasa apabila ‘networking’ yang telah dibangun selama lebih dari stengah dekade ini bisa diberdayakan secara optimal. Tentu hal ini sebanding dengan ‘ongkos’ yang telah dikeluarkan untuk itu. Bukankah tidak mudah dan murah untuk membangun sebuah jaringan kerja apalagi untuk level nasional ?
Disamping kontribusi akademis dan non akademis yang sangat signifikan bagi pengembangan sistem pembelajaran bahasa Inggris kita, keberadaan ETC selama ini telah mampu membuka pintu bagi para guru bahasa Inggris di sekitar ETC tersebut berada untuk mengasah baik kemampuan yang terkait dengan tugas mereka sebagai guru maupun untuk pengembangan dirinya secara utuh. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh ETC baik berupa pengujian maupun pelatihan telah mampu memberikan mereka kesempatan untuk berkiprah tidak hanya sebagai instruktur tetapi juga sebagai coordinator, planner, supervisor, promotor, bahkan manajer dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakannya. Melaui peran-peran tersebut, mereka diasah kemampuan mengelola sebuah organisasi dimana hal itu tentu tidak bisa diperoleh apabila yang bersangkutan tidak memiliki wadah untuk hal tersebut.
Singkat kata, ETC selama kurang lebih lima tahun terakhir ini telah mampu memainkan peran yang cukup signifikan dalam sistem pendidikan kita dan oleh karenanya hendaknya ia dilihat tidak hanya sebagai sebuah wadah pengujian dan pelatihan bahasa Inggris belaka namun lebih daripada itu, ETC sesungguhnya adalah perwujudan dari sebuah jaringan kerja pendidikan nasional [baca: national education network] yang bisa saja menjadi aset yang sangat berharga baik bagi pemerintah daerah maupun pusat dalam rangka pengembangan sistem pembelajaran bahasa Inggris khususnya dan pendidikan di Indonesia pada umumnya.
C. PERUBAHAN NAMA DAN FUNGSI ETC
Melihat manfaat baik yang bersifat akademis maupun non akademis yang bisa diperoleh dari keberadaan ETC di tanah air, ‘pemberangusan’ ETC yang dilakukan sendiri oleh institusi yang mendirikannya merupakan sebuah tindakan yang sangat kontraproduktif dan harus ditolak secara bersama-sama. Penggantian nama dan fungsi sebagian besar ETC menjadi Sekolah Pelaksana Tes [SPT] telah menghilangkan esensi dasar pendirian ETC tersebut dan oleh karenanya hal tersebut bertentangan dengan prosedur operasional standar yang telah disepakati secara bersama-sama. Selama kurang lebih satu tahun terakhir ini, SPT yang disuguhkan menjadi pengganti ETC belumlah mampu menunjukkan peran yang lebih baik daripada ketika ia masih berlabel ETC. SPT tidak lebih dan tidak kurang hanya sebagai tempat pelaksanaan tes TOEIC belaka. Instrumen-instrumen pendukungnya, seperti SPO misalnya, tidak merekomendir wadah tersebut untuk berkiprah seperti ETC. Dengan demikian, walaupun ada sebagian dari kita yang ingin memberdayakan peran SPT tersebut seperti yang dimiliki oleh ETC, pengimplementasiannya hampir bisa dipastikan tidak akan bisa berjalan dengan mulus. Mengapa ? Karena SPT tidak memiliki rambu-rambu secara nasional yang mengatur hal tersebut. Sebagian peran yang dimiliki oleh ETC seperti pelatihan misalnya bisa saja dilaksanakan oleh SPT namun hanya berlaku bagi SPT itu saja dan legalitasnya tentu dipertanyakan. Untuk alasan tersebut, keberadaan ETC harus tetap dipertahankan.
Namun demikian, apabila ‘pemberangusan’ tersebut dimaknai dan diimplementasikan sebagai sebuah usaha reinventarisasi tata kelola ETC sejalan dengan semangat otonomi daerah dan sistem pendidkan nasional kita maka sebaliknya kita harus dukung bersama-sama. Mengapa ? Karena keberdaan ETC, dimana secara administratif menjadi bagian integral dari SMK, tentu akan semakin kompleks dan sangat tergantung dari kebijakan sekolah tersebut khususnya maupun pemerintah daerah pada umumnya. Dengan demikian, sistem dan tata kelolanya juga harus menyesuaikan diri tidak hanya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah pusat tetapi juga, dan ini yang lebih penting, adalah dengan sistem dan tata kelola sekolah maupun pemerintah daerah dimana ia berada. Peran ETC ke depan dituntut untuk mampu bersinergi tidak hanya dengan sistem atau subsistem yang ada di pemerintah pusat tetapi juga dengan sistem atau subsistem yang ada di pemerintah kabupaten atau kota bahkan propinsi. Sudahkah hal ini dilakukan seiring dengan perubahan ETC menjadi SPT ? Jawabannya tentu belum. Yang telah dilakukan selama ini justru mengkebiri kedudukan, peran dan fungsi ETC sehingga hal tersebut tidak semakin berkembang tetapi sebaliknya semakin mengerucut. Jika sebelumnya ETC diposisikan sebagai sebuah organisasi dalam SMK yang memiliki independensi mengelola dirinya sendiri, kini dengan berganti nama menjadi SPT, oraganisasi itu semakin lemah bahkan tidak ada. Fungsi pelatihan yang sebelumnya dimiliki oleh ETC, kini sudah ditiadakan. Yang tertinggal hanyalah fungsi pengujian dengan segala keterbatasannya.
Dari uraian di atas, tampak sekali bahwa perubahan nama dan fungsi ETC menjadi SPT samasekali tidak memberikan perubahan ke arah yang lebih baik tetapi justru sebaliknya. Perubahan tersebut, dalam perspektif apapun kecuali untuk kepentingan sempit dan sesaat, telah menjadi sebuah kemunduran dalam pengembangan sistem pendidikan bahasa Inggris di lingkup pendidikan kejuruan khususnya. Oleh karena itu, kebijakan ini harus ditata kembali sehingga cita-cita para ‘founding fathers’ yang telah bersusah payah membangun sistem per-ETC-an di negeri ini selama lebih dari setengah dekade dapat kita raih bersama-sama.
Balikpapan, 7 Februari 2008
Syamsul Aematis Zarnuji
Advisor – ETC SMKN 1 Balikpapan
Kepala SMK Airlangga Balikpapan
T : +62 542 761 941, 415 285
M : +62 811 531 471
E : szarnuji@yahoo.com
GURU BRILIAN BUKANLAH JAMINAN-Bagian 2 (habis)
Sebagai seorang guru, hati saya terasa miris ketika salah seorang kawan saya mengatakan kepada saya kalau seandainya semua guru-guru kita di negeri ini memiliki kualitas yang bagus maka selesailah perkara carut marut pendidikan kita ini. Dia begitu yakin dengan kepintaran dan kecakapan seorang guru dalam mengubah wajah pendidikan kita. Sampai-sampai ia berkata, “kalau gurunya sudah pintar, cakap dan terampil, biar kurikulum dan fasilitas belajarnya tidak bagus, hasilnya dijamin pasti bagus”. Saya lalu bertanya kepadanya, “guru-guru yang berkualitas itu seperti apa sih ? “ “Tentu guru-guru yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang bagus terkait dengan tugasnya sebagai guru”, jawabnya. Saya makin penasaran dengan cara pandang kawan saya ini. Saya pikir mungkin ada sesuatu yang baru yang bisa saya peroleh darinya mengingat dikalangan para pendidik dia sering ditokohkan sebagai seorang yang punya visi yang sangat brilian tentang dunia pendidikan kita. Makanya saya melanjutkan pertanyaan saya. “Menurut anda, kualitas guru-guru kita saat ini seperti apa sih ?”, tanya saya. “Wah.. kalau soal itu anda juga tau. Kualitasnya jau dari apa yang diharapkan”, timpalnya. “Lalu, apa yang harus kita lakukan ? “, tanya saya kembali. Dengan berapi-api dia menjelaskan. “Benahi LPTK-LPTK kita. Benahi kurikulum serta sistem pendidikan dan pelatihannya. Buat program-program yang bisa menarik minat generasi muda kita yang berprestasi, pintar dan brilian untuk masuk ke LPTK-LPTK tersebut dan pekerjakan dosen-dosen berkelas super untuk mendidik dan melatih mereka. Dengan cara itu kita tentu akan mendapatkan guru-guru yang mupuni”, urainya.
Memang sangat masuk akal. Jika kita ingin memiliki guru-guru yang berkualitas, brilian, mumpuni atau apalah istilah yang mau kita gunakan untuk menunjukkan tingkat ‘kehebatan’ atas kemampuan dan kecakapan guru-guru tersebut maka pendekatan formal yang paling ideal yang harus kita lakukan adalah persis seperti yang diuraikan oleh kawan saya di atas. Pertanyaanya kemudian adalah apakah dengan memiliki guru-guru yang mumpuni tersebut bahkan didukung dengan kurukulum dan fasilitas belajar yang baik dan sangat memadai lalu serta merta hasil dari proses pendidikan kita akan baik pula atau carut marut dunia pendidikan kita ini akan terselesaikan ?
Hemat saya, tidaklah demikian. Guru yang brilian hatta pun ditambah dengan kurikulum yang baik serta fasilitas yang sangat memadai bukanlah semata-mata jaminan untuk memperoleh hasil pendidikan yang berkualitas yang oleh karenannya carut-marut pendidikan kita di negeri ini serta-merta akan terselesaikan. Sayangnya, seringkali fokus perhatian kita tertuju hanya pada tiga aspek tersebut; guru berkualitas, kurikulum yang baik dan fasilitas yang memadai manakala kita berbicara soal penyelenggaraan pendidikan. Sepertinya kalau ketiga aspek tersebut telah dipenuhi maka selesailah urusan perbaikan kualitas pendidikan tersebut. Kita lupa bahwa masih ada aspek-aspek fundamental lain yang harus dikelola dengan baik jika kita menginginkan ketiga faktor di atas mampu memberi efek yang signifikan dalam memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini. Apalagi hanya berharap dari sebuah profesi guru walaupun memiliki kepandaian dan kecakapan yang sangat bagus. Lho, “bukankah guru itu sama dengan koki ?. Biar bahan bakunya tidak bagus kalau koki terserbut pintar meracik bumbu-bumbunya, pasti makanannya jadi lezat ”, kata kawan saya.
Logika tersebut 100 persen benar. Tapi jangan lupa bahwa bahan yang diracik oleh kedua orang yang memiliki profesi yang berbeda tersebut memiliki karakteristik yang amat sangat berbeda pula. Yang satu, biar di potong, dicincang atau diulek kalau nggak punya blender, tetap saja merem sedangkan yang lainnya, boro-boro mau dipotong, baru disentil saja sudah ngacir. “You can take the horses to the river but you can’t make them drink !” Karena karakteristik yang berbeda ini pula maka hasil yang akan diperoleh dari perlakuan terhadapnya pun akan berbeda walaupun dilakukan dengan cara yang sama. Oke … oke… “let’s just forget it !” saya kira ini bukan ‘case’ yang ingin saya sampaikan. Yang mau saya katakana adalah bahwa seorang guru yang memiliki kemampuan dan kecakapan yang bagus yang merupakan hasil dari sebuah proses ‘revolusi’ terhadap sistem penyelenggaraan LPTK kita tidak serta merta guru tersebut akan mampu dan/atau mau mewujudkannya [to perform] sebaik kemampuan dan kecakapan yang ia miliki ketika ia sudah menjadi seorang guru. Padahal yang bisa mengubah ‘wajah’ pendidikan kita ini bukan tergantung pada seberapa bagus ilmu dan keterampilan keguruan yang dimiliki oleh guru-guru kita tetapi lebih jauh daripada itu, dan ini yang lebih penting, adalah terletak pada seberapa bagus guru-guru kita telah melaksanakan tugas keguruannya tersebut.
Ketika kita berbicara sistem penyelenggaran LPTK kita dan berbagai aspek ikutan yang mendukung pengimplementasian sistem tersebut maka sebenarnya kita hanya berbicara soal ilmu pengetahuan dan keterampilan keguruan para guru kita, bukan seberapa bagus guru-guru kita telah melaksanakan tugas keguruannya. Padahal yang terakhir yang saya sebutkan inilah yang menentukan hitam putih wajah pendidikan kita. Percuma guru-guru kita mumpuni dari segi keilmuan dan keterampilan mengajarnya tetapi dalam mengajar mereka tidak mampu/mau melakukan sebaik ilmu dan keterampilan yang dikuasainya. Lho.. kok bisa ? Bukankah kalau ilmu dan keterampilan guru-guru kita sudah mumpuni maka mengajarnya juga mumpuni ?
Jawabnya tidak selalu demikian. Ada faktor lain yang amat sangat mempengaruhinya. Salah satu diantaranya adalah sistem yang menopang pelaksanaan tugas para guru tersebut ketika mereka telah diamanhkan tugas keguruan di pundaknya. Kalau sistemnya, mohon maaf, memble alias tidak kompetitif maka praktis para guru tersebut tentu akan mengajar sekena hati. Mereka tidak terpacu untuk mengeluarkan segenap kemampuan yang mereka miliki karena perlakuan ‘user’ terhadap mereka yang mengajar dengan baik bahkan melebihi standar yang telah ditetapkan tidak berbeda denagan atau lebih baik daripada mereka yang mengajar apa adanya bahkan jauh di bawah standar minimal. Mereka juga tidak terpacu untuk mengembangkan dirinya untuk ‘perform’ lebih baik. Justru apa yang telah diperoleh ketika masih di LPTK dulu kini lambat laun semakin memburuk, pudar bahkan hilang ditelan keengganan dan ‘kemalasan’nya. Hemat saya, baik buruknya sistem ini akan sangat mempengaruhi seberapa baik tugas-tugas keguruan yang akan dilaksanakan oleh para guru di tingkat akar rumput dan oleh karennya pula akan mempengaruhi kualitas pendidikan kita. Malah saya menduga, jika sistem di tataran implementasi ini berjalan dengan baik dalam atmosfir yang sangat kompetitif maka optimalisai kualitas pendidikan kita akan mampu kita capai walaupun di-back up oleh lulusan LPTK yang kualitasnya kurang baik. Mengapa ? Karena sistem tersebut tentu akan bekerja dengan sendirinya dalam rangka mengubah ‘mindset’ dan gairah kerja serta usaha para guru tersebut dalam mengubah dirinya menjadi lebih baik. Mereka akan terpacu untuk mencari sumber-sumber ilmu baru yang bisa menopang tugas keguruan yang diembannya dalam rangka tampil [perform] lebih baik bahkan terbaik di antara guru-guru lainnya.
Program sertifikasi guru, secara filosofis, sebenarnya telah menyentuh dan masuk ke ranah yang saya uraikan di atas. Namun sayang, dalam tataran implementatif, saya melihat belum berada pada jalur yang benar. “We are not on the right track and I’m sorry to say that !”. Dari pengamatan saya, penilian kinerja guru yang dilakukan hanya melalui porto folio sama sekali tidak mengubah watak dan prilaku guru secara substansial terkait dengan usaha-usaha mereka untuk memperbaiki kemampuan mengajarnya apalagi pelaksanaannya di dalam kelas. Yang berubah hanyalah gairah mereka untuk mengumpulkan sertifikat dan surat keterangan sebanyak-sebanyaknya hattapun dilakukan dengan cara memanipulasi data orang lain.
Sebagai penutup saya ingin katakan sekali lagi bahwa guru yang brilian, guru yang mumpuni, guru yang berkualitas atau guru yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat tinggi yang merupakan hasil dari sebuah proses revolusi terhadap sistem penyelenggaaraan LPTK kita tidaklah serta merta akan mampu mengubah wajah pendidikan kita karena yang bisa mengubahnya bukan seberapa bagus ilmu pengetahuan dan keterampilan keguruan yang dimiliki oleh para guru kita tetapi lebih jauh daripada itu, dan ini yang lebih penting, adalah terletak pada seberapa baik para guru tersebut telah mampu melaksanakan tugas keguruannya ketika kelak mereka menjadi guru. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah sistem yang dapat mendorong agar mereka mampu dan/atau mau melaksanakan tugas keguruan yang diembannya sebaik ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasainya.
Guru yang brilian, guru yang mumpuni, guru yang berkualitas atau guru yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat tinggi tentang tugas-tugas keguruan yang diembannya tentu tetap diperlukan. Tetapi jika hal tersebut tidak disertai dengan penataan sistem yang mampu menopang kondusifitas dan suasana kompetitif dalam pelaksanaan tugas-tugas mereka kelak ketika mereka berada di dalam kelas maka saya khawatir apa yang mereka lakukan bagi anak-anak didiknya tidaklah sebaik apa yang mereka tau dan bisa lakukan. Semoga tidak demikian adanya.
Balikpapan, 8 Februari 2008
Syamsul Aematis Zarnuji
Praktisi Pendidikan
T : +62 542 877 635
M : +62 811 531 471
E : szarnuji@yahoo.com
W : www.zarnuji.blogspot.com
Memang sangat masuk akal. Jika kita ingin memiliki guru-guru yang berkualitas, brilian, mumpuni atau apalah istilah yang mau kita gunakan untuk menunjukkan tingkat ‘kehebatan’ atas kemampuan dan kecakapan guru-guru tersebut maka pendekatan formal yang paling ideal yang harus kita lakukan adalah persis seperti yang diuraikan oleh kawan saya di atas. Pertanyaanya kemudian adalah apakah dengan memiliki guru-guru yang mumpuni tersebut bahkan didukung dengan kurukulum dan fasilitas belajar yang baik dan sangat memadai lalu serta merta hasil dari proses pendidikan kita akan baik pula atau carut marut dunia pendidikan kita ini akan terselesaikan ?
Hemat saya, tidaklah demikian. Guru yang brilian hatta pun ditambah dengan kurikulum yang baik serta fasilitas yang sangat memadai bukanlah semata-mata jaminan untuk memperoleh hasil pendidikan yang berkualitas yang oleh karenannya carut-marut pendidikan kita di negeri ini serta-merta akan terselesaikan. Sayangnya, seringkali fokus perhatian kita tertuju hanya pada tiga aspek tersebut; guru berkualitas, kurikulum yang baik dan fasilitas yang memadai manakala kita berbicara soal penyelenggaraan pendidikan. Sepertinya kalau ketiga aspek tersebut telah dipenuhi maka selesailah urusan perbaikan kualitas pendidikan tersebut. Kita lupa bahwa masih ada aspek-aspek fundamental lain yang harus dikelola dengan baik jika kita menginginkan ketiga faktor di atas mampu memberi efek yang signifikan dalam memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini. Apalagi hanya berharap dari sebuah profesi guru walaupun memiliki kepandaian dan kecakapan yang sangat bagus. Lho, “bukankah guru itu sama dengan koki ?. Biar bahan bakunya tidak bagus kalau koki terserbut pintar meracik bumbu-bumbunya, pasti makanannya jadi lezat ”, kata kawan saya.
Logika tersebut 100 persen benar. Tapi jangan lupa bahwa bahan yang diracik oleh kedua orang yang memiliki profesi yang berbeda tersebut memiliki karakteristik yang amat sangat berbeda pula. Yang satu, biar di potong, dicincang atau diulek kalau nggak punya blender, tetap saja merem sedangkan yang lainnya, boro-boro mau dipotong, baru disentil saja sudah ngacir. “You can take the horses to the river but you can’t make them drink !” Karena karakteristik yang berbeda ini pula maka hasil yang akan diperoleh dari perlakuan terhadapnya pun akan berbeda walaupun dilakukan dengan cara yang sama. Oke … oke… “let’s just forget it !” saya kira ini bukan ‘case’ yang ingin saya sampaikan. Yang mau saya katakana adalah bahwa seorang guru yang memiliki kemampuan dan kecakapan yang bagus yang merupakan hasil dari sebuah proses ‘revolusi’ terhadap sistem penyelenggaraan LPTK kita tidak serta merta guru tersebut akan mampu dan/atau mau mewujudkannya [to perform] sebaik kemampuan dan kecakapan yang ia miliki ketika ia sudah menjadi seorang guru. Padahal yang bisa mengubah ‘wajah’ pendidikan kita ini bukan tergantung pada seberapa bagus ilmu dan keterampilan keguruan yang dimiliki oleh guru-guru kita tetapi lebih jauh daripada itu, dan ini yang lebih penting, adalah terletak pada seberapa bagus guru-guru kita telah melaksanakan tugas keguruannya tersebut.
Ketika kita berbicara sistem penyelenggaran LPTK kita dan berbagai aspek ikutan yang mendukung pengimplementasian sistem tersebut maka sebenarnya kita hanya berbicara soal ilmu pengetahuan dan keterampilan keguruan para guru kita, bukan seberapa bagus guru-guru kita telah melaksanakan tugas keguruannya. Padahal yang terakhir yang saya sebutkan inilah yang menentukan hitam putih wajah pendidikan kita. Percuma guru-guru kita mumpuni dari segi keilmuan dan keterampilan mengajarnya tetapi dalam mengajar mereka tidak mampu/mau melakukan sebaik ilmu dan keterampilan yang dikuasainya. Lho.. kok bisa ? Bukankah kalau ilmu dan keterampilan guru-guru kita sudah mumpuni maka mengajarnya juga mumpuni ?
Jawabnya tidak selalu demikian. Ada faktor lain yang amat sangat mempengaruhinya. Salah satu diantaranya adalah sistem yang menopang pelaksanaan tugas para guru tersebut ketika mereka telah diamanhkan tugas keguruan di pundaknya. Kalau sistemnya, mohon maaf, memble alias tidak kompetitif maka praktis para guru tersebut tentu akan mengajar sekena hati. Mereka tidak terpacu untuk mengeluarkan segenap kemampuan yang mereka miliki karena perlakuan ‘user’ terhadap mereka yang mengajar dengan baik bahkan melebihi standar yang telah ditetapkan tidak berbeda denagan atau lebih baik daripada mereka yang mengajar apa adanya bahkan jauh di bawah standar minimal. Mereka juga tidak terpacu untuk mengembangkan dirinya untuk ‘perform’ lebih baik. Justru apa yang telah diperoleh ketika masih di LPTK dulu kini lambat laun semakin memburuk, pudar bahkan hilang ditelan keengganan dan ‘kemalasan’nya. Hemat saya, baik buruknya sistem ini akan sangat mempengaruhi seberapa baik tugas-tugas keguruan yang akan dilaksanakan oleh para guru di tingkat akar rumput dan oleh karennya pula akan mempengaruhi kualitas pendidikan kita. Malah saya menduga, jika sistem di tataran implementasi ini berjalan dengan baik dalam atmosfir yang sangat kompetitif maka optimalisai kualitas pendidikan kita akan mampu kita capai walaupun di-back up oleh lulusan LPTK yang kualitasnya kurang baik. Mengapa ? Karena sistem tersebut tentu akan bekerja dengan sendirinya dalam rangka mengubah ‘mindset’ dan gairah kerja serta usaha para guru tersebut dalam mengubah dirinya menjadi lebih baik. Mereka akan terpacu untuk mencari sumber-sumber ilmu baru yang bisa menopang tugas keguruan yang diembannya dalam rangka tampil [perform] lebih baik bahkan terbaik di antara guru-guru lainnya.
Program sertifikasi guru, secara filosofis, sebenarnya telah menyentuh dan masuk ke ranah yang saya uraikan di atas. Namun sayang, dalam tataran implementatif, saya melihat belum berada pada jalur yang benar. “We are not on the right track and I’m sorry to say that !”. Dari pengamatan saya, penilian kinerja guru yang dilakukan hanya melalui porto folio sama sekali tidak mengubah watak dan prilaku guru secara substansial terkait dengan usaha-usaha mereka untuk memperbaiki kemampuan mengajarnya apalagi pelaksanaannya di dalam kelas. Yang berubah hanyalah gairah mereka untuk mengumpulkan sertifikat dan surat keterangan sebanyak-sebanyaknya hattapun dilakukan dengan cara memanipulasi data orang lain.
Sebagai penutup saya ingin katakan sekali lagi bahwa guru yang brilian, guru yang mumpuni, guru yang berkualitas atau guru yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat tinggi yang merupakan hasil dari sebuah proses revolusi terhadap sistem penyelenggaaraan LPTK kita tidaklah serta merta akan mampu mengubah wajah pendidikan kita karena yang bisa mengubahnya bukan seberapa bagus ilmu pengetahuan dan keterampilan keguruan yang dimiliki oleh para guru kita tetapi lebih jauh daripada itu, dan ini yang lebih penting, adalah terletak pada seberapa baik para guru tersebut telah mampu melaksanakan tugas keguruannya ketika kelak mereka menjadi guru. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah sistem yang dapat mendorong agar mereka mampu dan/atau mau melaksanakan tugas keguruan yang diembannya sebaik ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasainya.
Guru yang brilian, guru yang mumpuni, guru yang berkualitas atau guru yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat tinggi tentang tugas-tugas keguruan yang diembannya tentu tetap diperlukan. Tetapi jika hal tersebut tidak disertai dengan penataan sistem yang mampu menopang kondusifitas dan suasana kompetitif dalam pelaksanaan tugas-tugas mereka kelak ketika mereka berada di dalam kelas maka saya khawatir apa yang mereka lakukan bagi anak-anak didiknya tidaklah sebaik apa yang mereka tau dan bisa lakukan. Semoga tidak demikian adanya.
Balikpapan, 8 Februari 2008
Syamsul Aematis Zarnuji
Praktisi Pendidikan
T : +62 542 877 635
M : +62 811 531 471
E : szarnuji@yahoo.com
W : www.zarnuji.blogspot.com
Wednesday, February 06, 2008
GURU YANG BRILIAN BUKANLAH JAMINAN-Bagian 1
In dikmenjur@yahoogroups.com, "raja oppung" wrote:
Bila kita simak sampai saat ini bibit guru pada dasarnya orang-orang yangmenengah ke bawah dalam segala hal."TIDAK ADA ANAK PEJABAT YANG MAU JADI GURU", "TIDAK ADA ANAK ORANG KAYA MASUK IKIP", " TIDAK ADA JUARA I - III DI SLTA YANG MASUK KE IKIP"
Tadinya saya tidak begitu tertarik menanggapi tulisan raja opung ini terutama kalimatnya yang mengatakan kalau tidak pernah ada siswa juara 1-3 di SMA yang mau masuk IKIP. Tapi karena kalimat yang dicetak huruf besar itu muncul lagi di milis ini, tangan saya jadi 'gatel' juga untuk menulis.
Asumsi raja opung ini menurut saya terlampau berlebihan. Kalau jarang anak yang juara 1-3 masuk IKIP atau FKIP mungkin masih bisa diterima. Tapi kalau sampai mengatakan nggak ada itu udah keterlaluan. Di FKIP jurusan Bahasa Inggris tempat saya kuliah dulu, saya bahkan bisa mengatakan hampir separuh dari kawan-kawan seangkatan saya adalah siswa-siswa yang dulunya berprestasi dan nggak pernah keluar dari ranking 1-3 di sekolahnya sewaktu SMA. Dan hebatnya lagi mereka itu berasal dari SMA-SMA favorit baik dari kota dimana FKIP tersebut berada maupun dari kota-kota lainnya di Indonesia. Dan super-super hebatnya, pendidikan paska sarjana mereka apakah itu master atau doktor semuanya diambil universitas-universitas ternama di luar negeri.
Pengalaman empirik saya ini mungkin kasuistik. Tapi bukan berarti lalu kita bisa mengatakan kalau nggak ada anak-anak orang kaya, anggak ada anak-anak berprestasi, nggak ada anak-anak pintar, nggak ada anak-anak yang juara 1-3 atau nggak ada anak-anak yang super lainnya yang mau masuk IKIP atau FKIP. Menurut saya ini salah besar. Kenyataannya ada kok, bahkan untuk jurusan-jurusan tertentu cukup banyak. Cuman kalau mau dibandingkan jumlahnya dengan mahsiswa non FKIP atau IKIP, ya... harus kita akui bahwa institusi tempat menggembleng orang-orang yang akan menjadi guru ini pasti kalah telak. Tapi sekali lagi bukan berarti nggak ada anak-anak 'super' di FKIP atau IKIP. Mereka ini sering tidak kelihatan di permukaan karena institusinya memang tidak 'populer' disamping jumlahnya yang tidak banyak. Mereka ibarat mutiara yang terpendam.
Yang menjadi persoalan kemudian adalah setelah mereka mendapatkan gelar S.Pd, sebagian anak-anak yang cukup brilian ini bukannya menjadi guru tetapi memilih profesi lain. Alasannya klasik memang. Disamping tidak bergengsi, 'income' yang diperoleh dari profesi ini relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan gaji yang akan mereka peroleh jika bekerja di BUMN atau perusahaan-perusahaan asing misalnya. Itulah yang sering mereka katakan kalau kita bertanya mengapa mereka tidak menjadi guru.
Terlepas dari hal ini, ada sebuah pertanyaan yang menurut saya menarik untuk dicermati. Apakah dengan memiliki guru-guru yang 'berkualitas', pendidikan kita akan menjadi lebih baik ? Kata berkualitas saya tulis dalam tanda kutip mengingat penginterpretasian kata tersebut bisa jadi tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Ada sebagian kalangan yang memadankan kata-kata 'guru berkualitas' dengan 'guru yang brilian'. Mereka berpikir kalau guru saya pintar maka segala urusan mendidik anak bangsa ini akan terselsaikan. Makanya usaha-usaha yang ditempuh selalu berurusan dengan bagaimana mendapatkan guru-guru yang brilian mulai dari memperbaiki input calon guru, pembenahan dan optimalisasi sistem pendidikan dan pelatihan guru, melakukan penataan-penataan LPTK-LPTK agar bisa menjadi institusi yang mumpuni dan lain-lain yang selalu lebih baik dan serba up-to-date. Mereka berpikir inilah solusi yang paling 'jitu' dalam rangka memperbaiki carut-marut dunia pendidikan kita saat ini. Mereka tidak sadar kalau masih ada aspek-aspek lain yang perannya tidak kalah penting bahkan lebih penting daripada sekedar menjadi guru yang brilian dalam rangka memperbaiki pelaksanaan pendidikan di republik ini. Cilakanya, sebagian besar dari masayarakat kita, bahkan para pakar pendidikan kita sekalipun sebagian masih memaknai guru berkualitas tersebut seperti ini. Lalu bagaimana sebaiknya kita memaknai guru berkualitas tersebut ?
Buat saya pribadi, guru berkualitas itu tidak diukur dari APA YANG BISA IA LAKUKAN tetapi dari APA YANG SUDAH IA LAKUKAN terkait tugas yang diembannya sebagai seorang guru. Jadi yang menjadi penekanan di sini adalah pada implementasinya, bukan pada apa yang ia ketahui. Seseorang bisa saja mengerti cara mengajar dengan baik, juga memiliki keterampilan untuk melakukan hal itu sebagai akibat dari sebuah proses rekrutmen dan pelatihan yang sangat baik. Tapi bisakah kita menjamin kalau yang ia tahu dan bisa lakukan itu mau diterapkannya. Dia sebenarnya mampu melakuknnya tetapi dia belum atau tidak mau melakukannya. Bersambung ke Bagian 2
Bila kita simak sampai saat ini bibit guru pada dasarnya orang-orang yangmenengah ke bawah dalam segala hal."TIDAK ADA ANAK PEJABAT YANG MAU JADI GURU", "TIDAK ADA ANAK ORANG KAYA MASUK IKIP", " TIDAK ADA JUARA I - III DI SLTA YANG MASUK KE IKIP"
Tadinya saya tidak begitu tertarik menanggapi tulisan raja opung ini terutama kalimatnya yang mengatakan kalau tidak pernah ada siswa juara 1-3 di SMA yang mau masuk IKIP. Tapi karena kalimat yang dicetak huruf besar itu muncul lagi di milis ini, tangan saya jadi 'gatel' juga untuk menulis.
Asumsi raja opung ini menurut saya terlampau berlebihan. Kalau jarang anak yang juara 1-3 masuk IKIP atau FKIP mungkin masih bisa diterima. Tapi kalau sampai mengatakan nggak ada itu udah keterlaluan. Di FKIP jurusan Bahasa Inggris tempat saya kuliah dulu, saya bahkan bisa mengatakan hampir separuh dari kawan-kawan seangkatan saya adalah siswa-siswa yang dulunya berprestasi dan nggak pernah keluar dari ranking 1-3 di sekolahnya sewaktu SMA. Dan hebatnya lagi mereka itu berasal dari SMA-SMA favorit baik dari kota dimana FKIP tersebut berada maupun dari kota-kota lainnya di Indonesia. Dan super-super hebatnya, pendidikan paska sarjana mereka apakah itu master atau doktor semuanya diambil universitas-universitas ternama di luar negeri.
Pengalaman empirik saya ini mungkin kasuistik. Tapi bukan berarti lalu kita bisa mengatakan kalau nggak ada anak-anak orang kaya, anggak ada anak-anak berprestasi, nggak ada anak-anak pintar, nggak ada anak-anak yang juara 1-3 atau nggak ada anak-anak yang super lainnya yang mau masuk IKIP atau FKIP. Menurut saya ini salah besar. Kenyataannya ada kok, bahkan untuk jurusan-jurusan tertentu cukup banyak. Cuman kalau mau dibandingkan jumlahnya dengan mahsiswa non FKIP atau IKIP, ya... harus kita akui bahwa institusi tempat menggembleng orang-orang yang akan menjadi guru ini pasti kalah telak. Tapi sekali lagi bukan berarti nggak ada anak-anak 'super' di FKIP atau IKIP. Mereka ini sering tidak kelihatan di permukaan karena institusinya memang tidak 'populer' disamping jumlahnya yang tidak banyak. Mereka ibarat mutiara yang terpendam.
Yang menjadi persoalan kemudian adalah setelah mereka mendapatkan gelar S.Pd, sebagian anak-anak yang cukup brilian ini bukannya menjadi guru tetapi memilih profesi lain. Alasannya klasik memang. Disamping tidak bergengsi, 'income' yang diperoleh dari profesi ini relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan gaji yang akan mereka peroleh jika bekerja di BUMN atau perusahaan-perusahaan asing misalnya. Itulah yang sering mereka katakan kalau kita bertanya mengapa mereka tidak menjadi guru.
Terlepas dari hal ini, ada sebuah pertanyaan yang menurut saya menarik untuk dicermati. Apakah dengan memiliki guru-guru yang 'berkualitas', pendidikan kita akan menjadi lebih baik ? Kata berkualitas saya tulis dalam tanda kutip mengingat penginterpretasian kata tersebut bisa jadi tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Ada sebagian kalangan yang memadankan kata-kata 'guru berkualitas' dengan 'guru yang brilian'. Mereka berpikir kalau guru saya pintar maka segala urusan mendidik anak bangsa ini akan terselsaikan. Makanya usaha-usaha yang ditempuh selalu berurusan dengan bagaimana mendapatkan guru-guru yang brilian mulai dari memperbaiki input calon guru, pembenahan dan optimalisasi sistem pendidikan dan pelatihan guru, melakukan penataan-penataan LPTK-LPTK agar bisa menjadi institusi yang mumpuni dan lain-lain yang selalu lebih baik dan serba up-to-date. Mereka berpikir inilah solusi yang paling 'jitu' dalam rangka memperbaiki carut-marut dunia pendidikan kita saat ini. Mereka tidak sadar kalau masih ada aspek-aspek lain yang perannya tidak kalah penting bahkan lebih penting daripada sekedar menjadi guru yang brilian dalam rangka memperbaiki pelaksanaan pendidikan di republik ini. Cilakanya, sebagian besar dari masayarakat kita, bahkan para pakar pendidikan kita sekalipun sebagian masih memaknai guru berkualitas tersebut seperti ini. Lalu bagaimana sebaiknya kita memaknai guru berkualitas tersebut ?
Buat saya pribadi, guru berkualitas itu tidak diukur dari APA YANG BISA IA LAKUKAN tetapi dari APA YANG SUDAH IA LAKUKAN terkait tugas yang diembannya sebagai seorang guru. Jadi yang menjadi penekanan di sini adalah pada implementasinya, bukan pada apa yang ia ketahui. Seseorang bisa saja mengerti cara mengajar dengan baik, juga memiliki keterampilan untuk melakukan hal itu sebagai akibat dari sebuah proses rekrutmen dan pelatihan yang sangat baik. Tapi bisakah kita menjamin kalau yang ia tahu dan bisa lakukan itu mau diterapkannya. Dia sebenarnya mampu melakuknnya tetapi dia belum atau tidak mau melakukannya. Bersambung ke Bagian 2
Monday, February 04, 2008
YANG TERSISA DARI SEMINAR NASIONAL CIO 2008 DI BALIKPAPAN
Baru saja sempat saya menyandarkan punggung saya di salah satu sofa tua di pojok ruang tamu dan mencoba sedikit rileks dari kepenatan saya setelah seharian mengikuti Seminar Nasional CIO 2008 di salah satu hotel berbintang di kota Balikpapan ketika saya tiba-tiba teringat kalau saya masih memiliki berbagai pertanyaan dan pandangan yang belum sempat saya sampaikan di ajang bergensi tersebut. Saya menyebut ‘gawean’ tersebut bergengsi karena setahu saya baru kali ini ada lembaga pendidikan tinggi di Balikpapan yang berani melaksanakan sebuah seminar TIK bertaraf nasional dengan para pembicara ‘top’ dibidangnya serta didampingi oleh seorang moderator yang juga menjadi salah satu anchor peliputan berita di sebuah stasiun televisi swasta terbesar di Indonesia. Patut kiranya diberikan penghargaan dan acungan jempol kepada panitia penyelenggara atas terlakasananya acara tersebut walaupun masih ada kekurangan di sana sini. Karena kelebihan dan kekurangan ini pula yang mengusik dan memacu adrenalin saya yang beberapa bulan terakhir ini mengendor untuk tetap menulis dan terus menulis. Maka tak ayal lagi, laptop yang tadinya sudah saya simpan di tempatnya serta merta harus saya turunkan lagi dan kembali menggerakkan jari-jemari saya di atas keyboard yang huruf-hurufnya sudah mulai tampak kabur tersebut sambil menunggu waktu sholat magrib tiba. Inilah sekelumit catatan saya yang saya tulis dengan gaya yang agak berbeda dari biasanya. Mudah-mudahan menarik untuk dibaca dan dicermati.
Saya sadar betul kalau anda adalah salah satu dari sekian banyak orang yang kebetulan berkesempatan membaca tulisan ini tetapi bisa jadi anda belum sempat menghadiri seminar ini atau bahkan baru kali ini anda membaca atau mendengar istilah CIO. Maka patutlah anda bertanya apakah CIO itu. Kalau demikian adanya, rasanya tidak fair kalau saya langsung tune in pada apa yang sesungguhnya ingin saya sampaikan.
CIO [baca:Chief Information Officer] dalam bahasa Indonesia, secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘kepala pegawai/staf informasi’. Jadi secara generik CIO itu bolehlah dilihat sebagai sebuah jabatan yang mengepalai bagian informasi yang didukung oleh beberapa pegawai atau staf di dalamnya. Dalam tataran operasional, CIO didefiniskan sebagai seorang eksekutif yang bertanggung jawab atas perencanaan, penyelarasan, penyiapan, implementasi dan evaluasi TIK [teknologi informasi & komunikasi] di dalam sebuah organisasi (Lukito Edi Nugroho, Ketua Program Magister Teknologi Informasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta). Sementara dalam lingkup pendidikan atau lembaga pendidikan, CIO itu lebih daripada sekedar seseorang yang bertugas sebagai pelaksana dalam memperlancar segala urusan yang terkait dengan pemberdayaan TIK di sebuah lembaga pendidikan. CIO adalah sebuah jabatan yang diemban oleh seseorang dengan sebuah kewenangan yang mampu melakukan hal-hal terkait dengan pembuatan kebijakan, bahkan bila perlu, dapat memberikan pressure atau punishment bagi sebagian besar komunitas dalam sebuah lembaga pendidikan demi memperlancar pengendalian pemanfaatan TIK di institusi tersebut. Di tataran yang lebih spesifik di ingkup sekolah atau perguruan tinggi misalnya, kawan saya yang kemudian menjadi salah seorang steering committee seminar yang baru saja saya hadiri tersebut mengatakan kalau CIO itu bolehlah dianalogikan sama dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang TIK atau di level perguruan tinggi saya kira bisa jadi sama dengan Pembantu Rektor Bidang TIK, Pembantu Ketua Bidang TIK atau Wakil Direktur Bidang TIK. “Lho, apa lagi ini ? Wakil Kepala sekolah yang sudah ada saja di sekolah saya mau ‘diliquidasi’ kok. Boro-boro mau menambah wakil kepala sekolah yang baru lagi. Apa pentingnya sih Wakasek Bidang TIK di sekolah-sekolah kita ? ” kata salah seorang kawan saya yang saat ini mengepalai salah satu sekolah swasta di Kota Balikpapan.
Pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan kawan saya di atas mungkin kedengaran tidak begitu penting bagi anda untuk anda respon, tapi justru inilah semestinya yang menjadi pijakan dan entry point kita manakala kita berbicara soal CIO, Wakasek Bidang TIK, Pembantu Rektor Bidang TIK, Wakil Ketua Bidang TIK, Wakil Direktur Bidang TIK atau atau apalah istilah yang anda mau gunakan untuk menyebut sebuah jabatan yang berada di ‘second line’ urusan TIK itu diantara hangar-bingar penyelenggaraan pendidikan kita saat ini. Tapi sayang, seminar yang mengusung tema “CIO Solusi Menjawab Tantangan Global dan Milenium Development Goals” itu belum sampai menyentuh hal-hal seperti itu, yang menurut hemat saya cukup substansial jika kita berbicara soal tantangan global dan ‘milenium development goals’. Salah satu ulasan yang ingin sekali saya dengar dari pembicara dalam konteks ini saat itu adalah bagaimana menarik benang merah antara peran CIO dengan berbagai usaha membangun tiga elemen penting ; e-government untuk sektor pemerintah, e-learning untuk sektor pendidikan dan e-commerce untuk sektor industri dalam memenagkan persaingan global di planet yang oleh Thomas L Freudman disebut sudah tanpa tapal batas [the world is flat] ini . Hemat saya, sangat tidak cukup kalau anda hanya mampu mengatakan CIO itu amat sangat dibutuhkan dalam membangun ketiga sektor tersebut tanpa mengetahui alasan ilmiah mengapa hal itu sangat diperlukan. Dalam sebuah seminar dengan pakem akademis yang menjadi salah satu karakteristiknya, elaborasi benang merah yang ada diantara ketiga simpul di atas sebagai bagian dari argumentasi mengapa CIO sangat dibutuhkan tentu menjadi sangat penting.
Saya, anda atau siapa saja yang sempat hadir dalam seminar tersebut patut kiranya menggandakan ucapan terimakasih pada pak Lukito, Ketua Program Magister Teknologi Informasi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang telah sedikit memaparkan hasil survey UNPAN, sebuah lembaga riset internasional yang memposisikan keberadaan e-government kita pada tahun 2005 yang baru mampu berada di urutan ke 10, satu tingkat di atas Vietnam dan dua tingkat di bawah Brunei Darussalam, diantara negara-negara di Asia. Paparan ini tentu bisa menjadi bagian dari elaborasi benang merah antara perlunya CIO dan berbagai usaha dalam membangun e-government kita. Tapi bagaimana dengan sektor pendidikan menyangkut e-learning-nya yang tentu saja bisa digunakan untuk meyakinkan kawan saya tadi kalau CIO di sekolah-sekolah kita sangat diperlukan. Demikian pula dengan sektor industri menyangkut e-commerce-nya. Kedua sektor yang saya sebutkan tadi parktis tidak terlalu banyak di-back up dengan data-data pendukung ilmiah yang akurat yang bisa dijadikan sandaran untuk kemudian pada akhirnya kita berkata ‘ya saya memang sangat membutuhkan CIO di organisasi saya’.
Pentingkah hal ini ? Ya, tentu saja. Disamping karena seminar itu adalah forum ilmiah, CIO tersebut adalah sebuah ‘profesi’ yang amat sangat baru di dunia TIK di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Di Indonesia sendiri hanya ada dua lembaga pendidikan tinggi yang cukup punya ‘nyali’ untuk membuka program ini. Oleh karenanya diperlukan exposure dari existing data yang bisa digunakan untuk meyakinkan audien bahwa memang CIO ini amat sangat kita butuhkan. Di lingkup pendidikan khususnya, saya tadinya berharap ada ‘exposure’ tentang kekuatan dan kelemahan kita dalam bidang e-learning saat ini. Harapan semacam ini wajar kiranya muncul tidak hanya dari saya tapi dari kawan-kawan praktisi pendidikan yang lain mengingat begitu gencarnya Departemen Pendidikan Nasional kita menggalang pembangunan TIK di republik ini akhir-akhir ini. Lihat saja proyek-proyek yang telah diluncurkan seperti jardiknas, school net, virlib [virtual library] bahkan terakhir saya mendengar akan diluncurkan megaproyek satu milyar untuk pengadaan komputer di seluruh Indonesia untuk kepentingan pendidikan. Tapi data-data ini kan masih sangat generik dan hanya sebagian kecil dari sekian banyak elemen-lemen fundamental yang dibutuhkan untuk meracik elaborasi yang rasional dan ilmiah guna menjawab mengapa CIO itu sangat dibutuhkan di lembaga-lembaga pendidikan kita. Belum lagi pertimbangan-pertimbangan existing condition non fisik yang dimiliki oleh lembaga-lembaga tersebut. Mempertemukan benang merah antara kepentingan kita untuk mampu bersaing dalam kompetisi global dengan existing condition keberdaan teknologi informasi di lembaga-lembaga pendidikan kita saat ini tentu akan menjadi entry point yang sangat efektif dalam memberikan pencerahan bahkan penyadaran akan kebutuhan kita terhadap CIO tersebut. Kalau self awareness akan kebutuhan CIO tersebut telah dimiliki oleh setiap kita terutama para peserta seminar yang bisa jadi mereka adalah top management di organisasinya maka ‘kegairahan’ untuk memperkuat keberadaan teknologi informasi di lingkup organisasi yang dipimpinnya tentu selalu ada dan inilah yang semestinya harus kita bangun saat ini.
Karena saya rasa isu ini menarik dan sangat penting buat saya dan mungkin juga untuk anda dan audien yang lainnya yang menjadi bagian dari kosmik ilmiah dalam perhelatan akbar tersebut, saya tetap berharap kalau di plenary session isu ini akan disentil oleh ketiga nara sumber mengingat mereka benar-benar trio yang menurut pandangan saya sangat ideal. Satu berlatar belakang birokrat yang bisa merepresentasikan sektor pemerintah dengan e-gov-nya. Satu lagi berlatar belakang pendidik atau ahli pendidikan dengan e-learning-nya dan satu yang lainnya berlatar belakang entrepreneur yang tentu saja bisa merepresentasikan dunia industri dengan e-commerce-nya. Tapi sayang, tetap juga tidak menyentuh esensi yang tertuang dalam tema yang diusung dalam seminar nasional tersebut.
Kalau dalam konteks dunia pendidikan misalnya, kita merasa membutuhkan CIO ini karena internet yang menjadi salalah satu hal yang akan diurusi oleh CIO bisa membuat anda berpetualang di alam maya, men-download materi-materi pendidikan dengan cepat dan efisien, membangun kantor-kantor tempat bekerja secara maya bahkan bisa menghasilkan uang atas bantuan software tersebut, maka sungguh alasan tersebut menjadi sesuatu yang amat sangat sederhana untuk ‘ditelanjangi’ di forum sekelas seminar nasional. Argumentasi-argumentasi semacam ini tentu tidak salah, bahkan saya menjamin sangat tepat. Tapi kadar keilmuan yang muncul dari elaborasi seperti itu sungguh terlampau jenerik tetapi sangat sederhana dan bisa saja lahir dari kalangan netter pada umumnya. ‘Ketidakseksian’ content dari bedah gagasan pada plenary session di sore itu semakin terasa ketika moderator sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada audien untuk menjadi bagian aktif dari proses diskusi tersebut.
Apa yang anda baca di atas mungkin terasa getir dan bisa saja hal itu menjadi bad news buat anda. Tapi jangan dulu kecewa karena itu kan hanya ekspektasi subyektif saya. Saya, anda atau audien bisa saja berharap A sementara pemateri memberikan B. Ini menurut saya sesuatu yang sangat lumrah terjadi. Banyak sekali catatan-catatan saya yang menurut hemat saya patut diberi pujian dan tentu menjadi good news buat anda dan terlebih lagi bagi panitia pelaksana. Selain yang saya sebutkan di pengantar tulisan saya, hajatan yang sebagian besar pematerinya didatangkan dari luar Balikpapan [baca:Jakarta] ini tetap juga masih bisa terlaksana dengan baik walaupun ibu kota negara tersebut dilanda banjir yang membuat akses transportasi lumpuh total. Toh dengan kondisi seperti itu, saya masih sempat mendengar suara renyah Prita Laura [pengganti Meutia Hafidz] yang sempat memoderatori acara tersebut setengah hari. Mendatangkan public figure seperti ini tentu bukan pekerjaan mudah apalagi dalam dalam kondisi darurat seperti saat itu. Maka patut kiranya kita berikan apresiasi dan salut kepada panitia yang telah berusaha secara maksimal hingga detik-detik terakhir dan tetap komit melanjutkan acara tersebut walaupun dalam suasana yang kurang menguntungkan. Overall, saya mau katakan bahwa it’s such a big job and only a few people can do it ! Selamat atas telah terlaksananya Seminar Nasional CIO 2008 dan Selamat juga kepada Panitia Pelaksana yang telah menggagas dan menyukseskan pelaksanaan acara tersebut !
Balikpapan, 2 January 2008
Syamsul Aematis Zarnuji
Praktisi Pendidikan
Tel : +62 542 877 635
Cell : +62 811 531 471
W : www.zarnuji.blogspot.com
E : szarnuji@yahoo.com
Saya sadar betul kalau anda adalah salah satu dari sekian banyak orang yang kebetulan berkesempatan membaca tulisan ini tetapi bisa jadi anda belum sempat menghadiri seminar ini atau bahkan baru kali ini anda membaca atau mendengar istilah CIO. Maka patutlah anda bertanya apakah CIO itu. Kalau demikian adanya, rasanya tidak fair kalau saya langsung tune in pada apa yang sesungguhnya ingin saya sampaikan.
CIO [baca:Chief Information Officer] dalam bahasa Indonesia, secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘kepala pegawai/staf informasi’. Jadi secara generik CIO itu bolehlah dilihat sebagai sebuah jabatan yang mengepalai bagian informasi yang didukung oleh beberapa pegawai atau staf di dalamnya. Dalam tataran operasional, CIO didefiniskan sebagai seorang eksekutif yang bertanggung jawab atas perencanaan, penyelarasan, penyiapan, implementasi dan evaluasi TIK [teknologi informasi & komunikasi] di dalam sebuah organisasi (Lukito Edi Nugroho, Ketua Program Magister Teknologi Informasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta). Sementara dalam lingkup pendidikan atau lembaga pendidikan, CIO itu lebih daripada sekedar seseorang yang bertugas sebagai pelaksana dalam memperlancar segala urusan yang terkait dengan pemberdayaan TIK di sebuah lembaga pendidikan. CIO adalah sebuah jabatan yang diemban oleh seseorang dengan sebuah kewenangan yang mampu melakukan hal-hal terkait dengan pembuatan kebijakan, bahkan bila perlu, dapat memberikan pressure atau punishment bagi sebagian besar komunitas dalam sebuah lembaga pendidikan demi memperlancar pengendalian pemanfaatan TIK di institusi tersebut. Di tataran yang lebih spesifik di ingkup sekolah atau perguruan tinggi misalnya, kawan saya yang kemudian menjadi salah seorang steering committee seminar yang baru saja saya hadiri tersebut mengatakan kalau CIO itu bolehlah dianalogikan sama dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang TIK atau di level perguruan tinggi saya kira bisa jadi sama dengan Pembantu Rektor Bidang TIK, Pembantu Ketua Bidang TIK atau Wakil Direktur Bidang TIK. “Lho, apa lagi ini ? Wakil Kepala sekolah yang sudah ada saja di sekolah saya mau ‘diliquidasi’ kok. Boro-boro mau menambah wakil kepala sekolah yang baru lagi. Apa pentingnya sih Wakasek Bidang TIK di sekolah-sekolah kita ? ” kata salah seorang kawan saya yang saat ini mengepalai salah satu sekolah swasta di Kota Balikpapan.
Pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan kawan saya di atas mungkin kedengaran tidak begitu penting bagi anda untuk anda respon, tapi justru inilah semestinya yang menjadi pijakan dan entry point kita manakala kita berbicara soal CIO, Wakasek Bidang TIK, Pembantu Rektor Bidang TIK, Wakil Ketua Bidang TIK, Wakil Direktur Bidang TIK atau atau apalah istilah yang anda mau gunakan untuk menyebut sebuah jabatan yang berada di ‘second line’ urusan TIK itu diantara hangar-bingar penyelenggaraan pendidikan kita saat ini. Tapi sayang, seminar yang mengusung tema “CIO Solusi Menjawab Tantangan Global dan Milenium Development Goals” itu belum sampai menyentuh hal-hal seperti itu, yang menurut hemat saya cukup substansial jika kita berbicara soal tantangan global dan ‘milenium development goals’. Salah satu ulasan yang ingin sekali saya dengar dari pembicara dalam konteks ini saat itu adalah bagaimana menarik benang merah antara peran CIO dengan berbagai usaha membangun tiga elemen penting ; e-government untuk sektor pemerintah, e-learning untuk sektor pendidikan dan e-commerce untuk sektor industri dalam memenagkan persaingan global di planet yang oleh Thomas L Freudman disebut sudah tanpa tapal batas [the world is flat] ini . Hemat saya, sangat tidak cukup kalau anda hanya mampu mengatakan CIO itu amat sangat dibutuhkan dalam membangun ketiga sektor tersebut tanpa mengetahui alasan ilmiah mengapa hal itu sangat diperlukan. Dalam sebuah seminar dengan pakem akademis yang menjadi salah satu karakteristiknya, elaborasi benang merah yang ada diantara ketiga simpul di atas sebagai bagian dari argumentasi mengapa CIO sangat dibutuhkan tentu menjadi sangat penting.
Saya, anda atau siapa saja yang sempat hadir dalam seminar tersebut patut kiranya menggandakan ucapan terimakasih pada pak Lukito, Ketua Program Magister Teknologi Informasi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang telah sedikit memaparkan hasil survey UNPAN, sebuah lembaga riset internasional yang memposisikan keberadaan e-government kita pada tahun 2005 yang baru mampu berada di urutan ke 10, satu tingkat di atas Vietnam dan dua tingkat di bawah Brunei Darussalam, diantara negara-negara di Asia. Paparan ini tentu bisa menjadi bagian dari elaborasi benang merah antara perlunya CIO dan berbagai usaha dalam membangun e-government kita. Tapi bagaimana dengan sektor pendidikan menyangkut e-learning-nya yang tentu saja bisa digunakan untuk meyakinkan kawan saya tadi kalau CIO di sekolah-sekolah kita sangat diperlukan. Demikian pula dengan sektor industri menyangkut e-commerce-nya. Kedua sektor yang saya sebutkan tadi parktis tidak terlalu banyak di-back up dengan data-data pendukung ilmiah yang akurat yang bisa dijadikan sandaran untuk kemudian pada akhirnya kita berkata ‘ya saya memang sangat membutuhkan CIO di organisasi saya’.
Pentingkah hal ini ? Ya, tentu saja. Disamping karena seminar itu adalah forum ilmiah, CIO tersebut adalah sebuah ‘profesi’ yang amat sangat baru di dunia TIK di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Di Indonesia sendiri hanya ada dua lembaga pendidikan tinggi yang cukup punya ‘nyali’ untuk membuka program ini. Oleh karenanya diperlukan exposure dari existing data yang bisa digunakan untuk meyakinkan audien bahwa memang CIO ini amat sangat kita butuhkan. Di lingkup pendidikan khususnya, saya tadinya berharap ada ‘exposure’ tentang kekuatan dan kelemahan kita dalam bidang e-learning saat ini. Harapan semacam ini wajar kiranya muncul tidak hanya dari saya tapi dari kawan-kawan praktisi pendidikan yang lain mengingat begitu gencarnya Departemen Pendidikan Nasional kita menggalang pembangunan TIK di republik ini akhir-akhir ini. Lihat saja proyek-proyek yang telah diluncurkan seperti jardiknas, school net, virlib [virtual library] bahkan terakhir saya mendengar akan diluncurkan megaproyek satu milyar untuk pengadaan komputer di seluruh Indonesia untuk kepentingan pendidikan. Tapi data-data ini kan masih sangat generik dan hanya sebagian kecil dari sekian banyak elemen-lemen fundamental yang dibutuhkan untuk meracik elaborasi yang rasional dan ilmiah guna menjawab mengapa CIO itu sangat dibutuhkan di lembaga-lembaga pendidikan kita. Belum lagi pertimbangan-pertimbangan existing condition non fisik yang dimiliki oleh lembaga-lembaga tersebut. Mempertemukan benang merah antara kepentingan kita untuk mampu bersaing dalam kompetisi global dengan existing condition keberdaan teknologi informasi di lembaga-lembaga pendidikan kita saat ini tentu akan menjadi entry point yang sangat efektif dalam memberikan pencerahan bahkan penyadaran akan kebutuhan kita terhadap CIO tersebut. Kalau self awareness akan kebutuhan CIO tersebut telah dimiliki oleh setiap kita terutama para peserta seminar yang bisa jadi mereka adalah top management di organisasinya maka ‘kegairahan’ untuk memperkuat keberadaan teknologi informasi di lingkup organisasi yang dipimpinnya tentu selalu ada dan inilah yang semestinya harus kita bangun saat ini.
Karena saya rasa isu ini menarik dan sangat penting buat saya dan mungkin juga untuk anda dan audien yang lainnya yang menjadi bagian dari kosmik ilmiah dalam perhelatan akbar tersebut, saya tetap berharap kalau di plenary session isu ini akan disentil oleh ketiga nara sumber mengingat mereka benar-benar trio yang menurut pandangan saya sangat ideal. Satu berlatar belakang birokrat yang bisa merepresentasikan sektor pemerintah dengan e-gov-nya. Satu lagi berlatar belakang pendidik atau ahli pendidikan dengan e-learning-nya dan satu yang lainnya berlatar belakang entrepreneur yang tentu saja bisa merepresentasikan dunia industri dengan e-commerce-nya. Tapi sayang, tetap juga tidak menyentuh esensi yang tertuang dalam tema yang diusung dalam seminar nasional tersebut.
Kalau dalam konteks dunia pendidikan misalnya, kita merasa membutuhkan CIO ini karena internet yang menjadi salalah satu hal yang akan diurusi oleh CIO bisa membuat anda berpetualang di alam maya, men-download materi-materi pendidikan dengan cepat dan efisien, membangun kantor-kantor tempat bekerja secara maya bahkan bisa menghasilkan uang atas bantuan software tersebut, maka sungguh alasan tersebut menjadi sesuatu yang amat sangat sederhana untuk ‘ditelanjangi’ di forum sekelas seminar nasional. Argumentasi-argumentasi semacam ini tentu tidak salah, bahkan saya menjamin sangat tepat. Tapi kadar keilmuan yang muncul dari elaborasi seperti itu sungguh terlampau jenerik tetapi sangat sederhana dan bisa saja lahir dari kalangan netter pada umumnya. ‘Ketidakseksian’ content dari bedah gagasan pada plenary session di sore itu semakin terasa ketika moderator sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada audien untuk menjadi bagian aktif dari proses diskusi tersebut.
Apa yang anda baca di atas mungkin terasa getir dan bisa saja hal itu menjadi bad news buat anda. Tapi jangan dulu kecewa karena itu kan hanya ekspektasi subyektif saya. Saya, anda atau audien bisa saja berharap A sementara pemateri memberikan B. Ini menurut saya sesuatu yang sangat lumrah terjadi. Banyak sekali catatan-catatan saya yang menurut hemat saya patut diberi pujian dan tentu menjadi good news buat anda dan terlebih lagi bagi panitia pelaksana. Selain yang saya sebutkan di pengantar tulisan saya, hajatan yang sebagian besar pematerinya didatangkan dari luar Balikpapan [baca:Jakarta] ini tetap juga masih bisa terlaksana dengan baik walaupun ibu kota negara tersebut dilanda banjir yang membuat akses transportasi lumpuh total. Toh dengan kondisi seperti itu, saya masih sempat mendengar suara renyah Prita Laura [pengganti Meutia Hafidz] yang sempat memoderatori acara tersebut setengah hari. Mendatangkan public figure seperti ini tentu bukan pekerjaan mudah apalagi dalam dalam kondisi darurat seperti saat itu. Maka patut kiranya kita berikan apresiasi dan salut kepada panitia yang telah berusaha secara maksimal hingga detik-detik terakhir dan tetap komit melanjutkan acara tersebut walaupun dalam suasana yang kurang menguntungkan. Overall, saya mau katakan bahwa it’s such a big job and only a few people can do it ! Selamat atas telah terlaksananya Seminar Nasional CIO 2008 dan Selamat juga kepada Panitia Pelaksana yang telah menggagas dan menyukseskan pelaksanaan acara tersebut !
Balikpapan, 2 January 2008
Syamsul Aematis Zarnuji
Praktisi Pendidikan
Tel : +62 542 877 635
Cell : +62 811 531 471
W : www.zarnuji.blogspot.com
E : szarnuji@yahoo.com
Subscribe to:
Posts (Atom)




