Saturday, February 08, 2014

I MISSED THE PLANE !



Anda pernah ketinggalan bis, kereta atau pesawat udara? Coba diingat-ingat, kira-kira apa yang menyebabkan anda ketinggalan bis, kereta atau pesawat udara tersebut? Dua hari yang lalu menjadi momen 'istimewa' buat saya. Lho.. apa hubungannya? Ya... sejak pertama kali saya bisa naik pesawat udara, baru kali itu saya ketinggalan burung besi yang bisa terbang tersebut. Selain itu, saya tertinggal bukan karena terjebak kemacetan, kendaraan mogok di jalan atau hal-hal lain yang membuat saya tiba di bandara terlambat . Saya tertinggal karena salah masuk ruang tunggu !

Uh... sesak rasanya dada ini. Sudah puluhan bandara pernah saya lewati dari bandara perintis di ujung selatan benua Australia hingga bandara sekelas Changi, Narita, Hongkong, Los Angles, Hartsfield-Jakson, Memphis, Heathrow hingga Frankfurt di Jerman dan berbagai bandara udara di benua Afrika, saya belum pernah sekalipun ketinggalan pesawat. Kalau pun ada yang hampir meninggalkan saya, itu terjadi bukan karna hal remeh temeh dan kelalian saya, tetapi karna pihak lain. Saya hampir saja tertinggal pesawat udara menuju Hartford, Conneticut karena 'secondary inspection' di bandara udara LA setelah kurang lebih 16 jam terbang dari Narita, Tokyo. Yang bikin saya lebih meradang lagi dengan pengalaman istimewa saya dua hari yang lalu itu adalah saya salah masuk ruang tunggu di bandara dimana begitu banyak berseliweran petunjuk dengan bahasa Indonesia, bukan nihonggo seperti di Jepang atau bahasa Rusia di Bandar Udara Domodedovo Moskow. Mau tau dimana? di Ngurah Rai-Bali !

Dua hari yang lalu saya ke Denpasar untuk mengurus proses pelimpahan kepegawaian saya dari jabatan struktural ke jabatan fungsional dosen. Saya berangkat dari BIL-Bandara Internasional Lombok dengan tiket Lion Air (PP) hari itu juga. Saya tiba di Ngurah Rai sekitar jam 10.00 wita setelah terbang selama kurang lebih 25 menit dari BIL. Sesegera setelah mendarat di Ngurah Rai, saya langsung ke loket tiket taxi airport, membeli tiket seharga 150 ribu rp lalu menuju Kantor Kopertis Wilayah VIII Bali, NTB,NTT. Singkat cerita, setelah selesai urusan di Kopertis, saya segera kembali ke Bandara Ngurah Rai karena penerbangan kembali ke Lombok hari itu juga. Saya tiba di bandara sekitar jam 2.10 pm sedangkan penerbangan saya ke BIL dijadwalkan jam 4.55 pm. Karena waktu yang masih cukup lama tersisa untuk keberangkatan ke BIL, saya memilih bersantai sambil melihat-lihat berbagai renovasi yang dilakukan di bandara tersebut. Sambil menyusuri 'lorong' menuju ruang tunggu, sesekali saya cek gate no. dan boarding time di boarding pass saya. Tampak jelas disana, gate no. saya 18 dan boarding time-nya 4.30 pm. Setelah hampir 5 menit saya menyusuri lorong itu (saya menyebutnya lorong karena itu jalan sementara dibatasi dengan sejenis dinding calsiboard di kiri kanan), saya melihat no. gate saya, 18 dengan tanda panah ke atas persis di depan saya. Saya sama sekali tidak melihat no. gate 16-17 dengan tanda panah ke arah samping kanan di bawah nomor 18 tersebut. Saya fikir saat itu, ruang di samping kanan saya itulah gate 18. Maka dengan penuh keyakinan saya memasuki ruang tunggu itu, mencari tempat nyaman untuk sekedar menyandarkan tubuh yang sudah kelelahan sambil menunggu penerbangan saya ke BIL.

Saya sempat 'get a nap' beberapa menit sambil duduk dimana sesekali mata saya melongok ke monitor jadwal keberangkatan pesawat ke berbagai tujuan di depan saya. Saya melihat borading time nomor pesawat yang saya tumpangi di layar itu lebih telat daripada waktu yang tertera di boarding pass saya. Uhm... bakal terlambat lagi, gumam saya dalam hati. Benar saja. Ketika jam tangan saya menunjukkan waktu jam keberangkatan saya seperti yang tertera dalam borading pass saya, tak jua ada panggilan dari staf Lion Air di depan gate yang saya tunggu seperti bisa mereka lakukan utk memberi tahu penumpang agar segera boarding. Saya sudah mulai curiga pesawat yang saya tumpangi bakal delay karena di layar monitor tampak beberapa maskapai mengalami hal serupa walaupun maskapai yang akan saya tumpangi ke BIL tidak memberikan informasi 'delay' dilayar monitor tersebut. Yang tampak di monitor justru 'boarding'. Walaupun terasa aneh, saya tidak mencoba bertanya kepada staf Lion Air di depan gate tersebut karena seringkali juga saya alami kalaupun sudah tertulis 'boarding' dilayar monitor tersebut tetapi penumpang juga tidak dipanggil-pangggil. Salah seorang penumpang yang juga hendak berangkat ke BIL mendekati seorang staf Lion Air di depan gate itu dan samar-samar saya dengar ia menanyakan keberangkatan pesawat Lion Air yang akan ditumpanginya. Staf tersebut menjelaskan kalau pesawat Lion Air yang akan ia tumpangi delay selama 30 menit. "Oh, my God, pesawat saya delay". Sambil bergumam dalam hati, saya tatap layar monitor di depan saya lagi. Disana masih tertulis 'boarding' untuk nomor pesawat yang akan saya tumpangi. Saat itu sudah jam 5.05., padahal jadwal keberangkatan ke BIL yang tertera di borading pass saya jam 4.55. Saya mulai gusar dan bertanya dalam hati, "kok kata boarding di layar monitor itu tidak berganti menjadi delay ya?" Ketika jam tangan saya menunjukkan pukul 5.10 atau tepatnya setelah 15 menit dari jadwal keberangkatan pesawat yang hendak saya tumpangi, saya memberanikan diri bertanya kepada staf lion air tersebut sambil menunjukkan boarding pass saya. Dengan raut wajah yang agak kaget dan tergesa-gesa, staf itu berkata; 'oh... bapak bukan di sini. ini gate 17 pak. Bapak di gate 18.  Cepat... cepat.. ke sebelah pak'!

"MasyaAllah, saya salah masuk ruang tunggu", ujar saya dalam hati sambil berlari ke ruang tunggu sebelah. Tanpa menghiraukan para penumpang yang saya lewati, saya langsung ke depan gate ruang tunggu 18. "Maaf mba', pesawat ini sudah berangkat nggak", tanya saya kepada staf lion air disana dengan nafas terengah-engah. "Waduh! Pesawatnya baru saja berangkat pak. Tadi kami telpon ke hp bapak tiga kali tetapi tidak diangkat", katanya dengan wajah yang agak kecewa. "Waduh mba' hp saya di saku jaket saya dan kebetulan saya tidak hidupkan nada deringnya", ujar saya dengan wajah pucat pasi :-) "Trus, gimana mba', bisakah dibantu saya? Saya harus berangkat sore ini ke Mataram", rengek saya dengan penuh memelas berharap saya dapat dibantu. "Oh.. kami nggak bisa pak, coba bapak tanya ke loket penjualan tiket lion air di depan sana, siapa tahu bisa direschedule?", ujarnya.

Dengan perasaan galau kembali saya berlari menyusuri lorong-lorong yang saya lewati tadi untuk kembali ke loket penjualan tiket lion air di depan bandara. Keringat sudah mulai mengucur dan napas saya sudah mulai tersengal-sengal setelah hampir setengah kilometer saya berlari sekencang-kencangnya dengan harapan saya masih mampu mengejar penerbangan terakhir lion air dari Ngurah Rai ke BIL sore itu. Ketika tiba di loket itu saya langsung saja menjelaskan apa yang saya alami dan memastikan apakah penerbangan saya bisa direschedule dengan penerbangan lion air yang lain sore itu ke BIL. Apes! Ternyata pesawat lion air yang meninggalkan saya tadi adalah penerbangan terakhir ke BIL. “Mba’ tolong bantu saya, mba”, dengan nada setengah memelas pinta saya kepada petugas itu. “Kami bisa bantu bapak tetapi besok pagi. Itupun  kami tidak bisa jamin dapat tempat duduk karena tadi tinggal 2 kursi yang kosong”, ujarnya.

Dalam kondisi yang panik, cemas dan galau, tiba-tiba seseorang yang kemudian saya ketahui sebagai calo, menawarkan saya tiket Garuda. “Maaf pak, kalau Bapak mau, saya ada dua seat tiket garuda ke BIL yang tersisa untuk jam 6.30 nanti”, ujarnya. Saya berfikir sejenak. “Kalau saya ambil tiket Garuda, ……. Bersambung …..

GURU STM KELILING DUNIA !



Aku baru saja membaca sebuah buku. Judulnya Anak Dusun Keliling Dunia. Buku ini ditulis oleh I Made Andi Arsana, seorang anak muda yang berprofesi sebagai Dosen di UGM sekaligus  ‘a Ph.D student’ di University of Wollongong , Australia. Dari judulnya, tentu kita bisa dengan mudah menebak apa yang  ia ceritakan dalam buku tersebut. Ya.. benar, dia menceritakan  pengalamannya mengunjungi berbagai Negara di berbagai belahan dunia yang kita diami saat ini. Dengan gaya yang jauh dari kesan ‘mengajari’ sebagaimana yang mungkin biasa ia lakukan saat mengajar, dia mampu mengemas cerita perjalanannya yang saya yakini cukup menarik dan inspiratif  bagi para pembaca.
Bagi saya, buku ini menarik sekaligus inspiratif bukan karena diksi atau gaya bercerita sang penulisnya, tetapi lebih daripada itu, substansi dan pesan yang hendak disampaikan saya kira persis seperti apa yang pernah saya alami dan ingin saya sampaikan kepada siapa saja yang punya hobi ‘berpetualang’ tapi tidak punya cukup uang. Kami sama-sama ingin mengatakan bahwa “kamu bisa berpetualang mengelilingi jagat ini tanpa harus memiliki cukup uang !” Lho.. kok bisa?  Mana mungkin perjalanan  mengelilingi dunia tidak membutuhkan uang?  Ya, perjalanan mengelingi jagat raya ini pasti memerlukan uang tapi tidak selalu uang tersebut berasal dari kocek anda, bukan? Itulah yang penulis buku ini dan saya alami dalam 10 tahun terakhir ini.

Jika ada perbedaannya, hal itu terlihat pada latar belakang dan kapasitas kami masing-masing. Kalau Bli Made Arsana berasal dari sebuah kampung [baca:dusun di pulau Bali] sebagaimana disentil dalam judul bukunya, saya berasal dari sebuah tempat yang lebih ‘kampungan’ lagi J . Bli Made Arsana masih bisa memakai sepatu ke sekolah dan naik kendaraan bermotor saat SD dulu. Saya tanpa alas kaki sama sekali dan harus menyusuri jalan setapak dari kebun yang dijaga sekaligus tempat tinggal kami di sebuah kampung di pulau Sumbawa. Jika Bli Made Arsana  berprofesi sebagai ‘guru’ di salah satu lembaga pendidikan tinggi [baca: UGM] terbaik di negeri ini, saya hanyalah seorang guru di sebuah STM di pulau Kalimantan saat ‘melancong’ ke berbagai belahan dunia tersebut. Jika Bli Made Arsana telah menulis pengalamannya mengunjungi kelima benua yang ada di bumi yang kita pijak saat ini, saya baru saja memulai baris pertama dalam catatan perjalanan panjang saya tersebut. Pun demikian, dengan perbedaan latar belakang dan kapasitas yang cukup mencolok, toh juga Tuhan telah memberikan kesempatan yang hampir sama dengan Bli Made untuk soal ‘berkeliling’ dunia ini J

So.. apa yang perlu saya lakukan supaya perbedaan itu tidak terlalu menganga? Hanya satu yang bisa saya lakukan, menulis dan menulis pengalaman saya berkunjung ke lima benua tersebut lalu saya jadikan sebuah buku. Ups! Trus judulnya apa? Masa’ saya menjiplak judul bukunya Bli Made Arsana? Bagaimana kalau “Berselancar Di Lima Benua” atau “Tanpa Uang Berkeliling Dunia” atau “Guru STM Keliling Dunia” atau ada yang lain ? J

Thursday, October 03, 2013

MY M.Ed THESIS !

Banyak sekali catatan menarik yang saya lalui selama menyelesaikan Master's Thesis saya, mulai yang bersifat akademis hingga yang non akademis. Dari sekian banyak catatan tersebut, pergumulan antara idealisme dan keinginan untuk segera menyelesaikan studi yang saya ikuti menjadi satu hal yang layak untuk 'dibagi' melalui blog ini.

Tentu kita semua maklum bahwa penulisan thesis menjadi pintu paling akhir yang harus 'didobrak' oleh seorang scholar, tak terkecuali dengan saya, bila ia ingin meraih gelar dalam studi yang dikutinya. Sebagus apapun nilai seluruh mata kuliah yang telah diikutinya, hal itu tidak akan memiliki makna apa-apa terhadap gelar yang hendak diraih apabila ia belum menyelesaikan thesis-nya. Oleh karenanya, dengan segala daya upaya, saya telah berjuang habis-habisan untuk menyelesaikan thesis saya yang terkait dengan perencanaan pembelajaran tersebut.  Bersambung ...

Tuesday, April 17, 2012

RUMAH DIJUAL/DISEWAKAN !


Ada yang minat ? Rumah Tinggal/Kantor Lantai 2 DIJUAL/DISEWAKAN ! Sertifikat Hak Milik atas nama Syamsul Aematis Zarnuji. Lokasi : Perum PT. Her Utama Mandiri I Blok J/19 Balikpapan, LT. 160 M2, LB. 175M. LT 1 : 1 Ruang Tamu, 3 Kamar Tidur, 2 Ruang Keluarga, 2 Toilet/K. Mandi, 1 Ruang Dapur Plus Kitchen Set. LT 2 : 1 Ruang FO, 1 Ruang Kantor dan 1 Ruang Belajar/Kerja. 10 Menit ke Bandara International Sepinggan, 15 Menit ke Rumah Sakit Umum, 5-10 Menit ke Pusat Perkantoran Pemkot Balikpapan, SMAN 5, SMPN 18, SMON 14, SMKN 1, 3 dan 4 Balikpapan. 15 Menit ke Balikpapan Plaza, Balcony City dan 10 Menit Balikpapan E-Walk. Tanpa Perantara ! Harga Nego, Hub. 0542-877 635, HP. 0811531471 atau E-mail: szarnuji@yahoo.com.



Salam,
Syamsul A. Zarnuji

ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA MASA BAKTI SAYA PURNA !


Tahun 1997 pertama kali saya menginjakkan kaki di bumi etam tepatnya di kota Balikpapan. Saya tidak pernah berfikir saat itu jika kelak saya akan meninggalkan kota ini untuk kembali mengabdikan diri saya bagi kampung halaman tercinta. Namun setelah lima belas tahun berlalu, masa bakti saya untuk kota yang telah banyak memberikan saya dan keluarga pelajaran yang begitu berharga harus purna. Tepatnya sejak tanggal 1 April 2012, saya secara resmi tidak lagi menjadi bagian dari pemerintah kota Balikpapan. Selamat tinggal kotaku tercinta. Ijinkan saya dan keluarga pamit untuk membagi banyak pelajaran yang pernah kau berikan bagi tanah kelahiran kami nun jauh diseberang sana dan terimaksih untuk semuanya.

Salam,
Balikpapan, 17 April 2012
Syamsul & Keluarga

Saturday, November 19, 2011

POLITEKNIK YANG UNIK (3) : Ada 19 APPLAUSE di Wisuda Politeknik Balikpapan


Aku fikir keunikan yang membuat lembaga pendidikan yang satu ini begitu istimewa di mataku sudah tidak ada lagi. Eh.. ternyata aku salah. Buktinya aku dibuat tercengang dengan yang satu ini. Ada sembilan belas tepuk tangan yang aku dengar dan saksikan selama mengikuti prosesi wisudanya yang ke VII yang baru saja usai digelar beberapa jam yang lalu ! Ya…. jumlah itu persis sama dengan tanggal penyelenggraan ajang tahunan itu ! Aku tidak tau apakah kesamaan ini hanya faktor kebetulan saja atau aku yang salah menghitung. Tapi yang jelas aku tetap terpana dengan jumlah tepuk tangan itu.

Aku sudah sering mengikuti ajang seremonial seperti ini. Tapi sangat jarang bahkan belum pernah rasanya aku mendengar tepuk tangan sebanyak itu. Untuk acara yang digawangi oleh pentolan bidang kepegawaian Politeknik Negeri Balikpapan ini, aku harus angkat topi. Bayangkan, acara baru saja berjalan sekitar lima menit, ruangan wisuda itu sudah bergemuruh. Tepuk tangan mulai terdengar setelah lagu Indonesia Raya dan Hymne Balikpapan dinyanyikan. Sebagai mantan Bintang Radio & Televisi (BRTV) RRI Mataram Tahun 1989 dalam lagu keroncong yang cukup mengerti tentang nada, aku harus memberikan nilai 9 kalau 10 terlalu sempurna buat adik-adik mahasiswa yang menyayikan kedua lagu tersebut. Sungguh ! Kemerduan, gegap gempita dan kekompakan suara mereka benar-benar mampu melucuti semangat heroisme dan bangga menjadi anak Indonesia dan warga Balikpapan dari persembunyiannya dalam bilik hatiku. Aku tidak tahan untuk sekedar mengetahui orang dibalik kehebatan mereka. “Siapa ya yang melatih anak-anak itu ?”, tanyaku kepada seorang tamu undangan yang kebetulan juga seorang dosen Politeknik Negeri Balikpapan yang duduk di sampingku. “Oh… itu didatangkan dari luar pak”, jawabnya. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa memberi komentar apapun soal itu.

Tepuk tangan itu ternyata masih berlanjut. Beberapa datang dari serpihan saat-saat yang tidak begitu aku ingat. Yang lainnya hadir ketika direktur yang baru lembaga yang pertamakali diinisiati pendiriannya oleh komunitas SMK di kota Balikpapan itu menyampaikan sambutannya. Aku melihat para undangan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika pak direktur menyampaikan ucapan terimakasihnya yang tulus kepada sahabatku yang baru saja digantinya. “Atas pengabdiannya, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Saya mohon kepada Bapak Totok Sulistyo, ST, MT untuk berdiri”. Seperti itulah kurang lebih ungkapan tulus pak direktur kepada orang yang digantikannya atas perannya sebagai pengendali pucuk pimpinan lembaga itu sebelumnya. Rasanya aku ingin sekali memberikannya ‘standing ovation’ ketika mantan direkturku itu diminta berdiri diantara para hadirin di barisan depan. Ada keihlasan saling memberi dan menerima disana. Solute ! Itulah kata yang paling pantas aku berikan atas ketulusan mereka berdua.

Diantara sekian momen yang paling banyak menyita perhatian, tanpa keraguan aku harus mengakui kepiawaian walikotaku meracik kata-katanya untuk itu. Coba bayangkan, dalam setiap 1-2 menit sambutan yang disampaikannya, orang yang dulu berprofesia sebagai wartawan ini mampu menghadirkan tepuk tangan dan suasana riuh rendah dari para undangan yang mendengar ‘orasinya’. Apalagi ketika dia memafarkan rencana pembangunan mega proyek pendidikan Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di kota Balikpapan, aku menyaksikan gemuruh tepuk tangan yang luar biasa. Tapi kemudian dia mampu membuat suasana begitu hening dan perasaan haru serta merta menyelimuti ruangan itu manakala ia berbagi kesedihannya tentang anak-anak yang terpinggirkan dari akses pendidikan di kota yang dipimpinnya. Tanpa menggunakan teks seperti kebanyakan pejabat yang aku lihat di negeri ini, dia begitu lihai berdiksi dan memilih kata-kata yang begitu dekat dengan pendengarnya. Rasanya aku belum pernah mendengar seorang pejabat di negeri ini yang selalu konsisten menggunakan kata ‘sampaian’ kepada pejabat lain dan para hadirin yang mendengarnya dalam acara-acara seresmi ini. Inilah salah satu diksi yang menjadi cirri khasnya yang membuat dia tidak berjarak dengan orang-orang disekitarnya. Hmmm… aku mahfum. Dia memang mantan wartawan. Tetapi dimataku, ia tetaplah seorang pemilih dan perangkai kata yang ulung seperti halnya sang maestro otodidak Dahlan Iskan sampai saat ini.

Aku juga terhenyak ketika beberapa menit kemudian ruangan yang berisi hampir ribuan orang tersebut bergemuruh manakala seorang alumni terbaik yang baru saja diwisuda melakukan presentasi tugas akhirnya dalam bahasa Inggris. Aku terpana bukan karena bahasa Inggrisnya yang lancar dan akurat karena memang bukan demikian adanya. Aku mencatat setidaknya masih ada, kalau tidak mau desebut banyak, diksi-diksi yang terasa Indonesia [baca: Indonesian sounds]serta tata bahasanya yang masih ringkih tentu untuk ukuran pengguna bahasa Inggris seperti aku. Tetapi aku tetap saja dibuat kagum olehnya. Konfidensi dan naturalisasi berbicara di depan publik alumni yang satu ini patut aku acungi kedua jempolku. Dia tidak grogi dan samasekali tidak menunjukkan inferioritas di depan para pejabat dan hampir ribuan undangan yang menyaksikannya. Oh… dear, seandainya aku punya perusahaan, aku akan melamarnya. Bukan dia yang melamarku. Begitulah, tepuk tangan ini terus saja terdengar hingga hajatan itu berakhir.

Aku tau pasti ada yang bertanya; apa pentingnya sih menghitung tepuk tangan-tepuk tangan itu ? Apa sih makna yang ada dibalik tepuk tangan-tepuk tangan itu dan apa hubungannya dengan acara seremonial seperti ini ? Kalau aku ada waktu aku akan menulisnya di lain waktu. Selamat datang Bapak Direktur Politeknik Negeri Balikpapan, selamat kepada para wisudawan/wisudawati dan selamat juga kepada para penyelenggara ajang tahunan ini ! Bersambung ……. 

Balikpapan, 19 November 2011
Salam Jabat Erat !

SYAMSUL AEMATIS ZARNUJI
szarnuji@yahoo.com
www.zarnuji.blogspot.com
www.myvirtualviews.wordpress.com

Thursday, November 17, 2011

POLITEKNIK YANG UNIK : Negeri Tapi Swasta ?


Dengan perasaan senang aku membuka amplop undangan itu. Jelas sekali kalau yang mengundangku adalah petinggi bahkan orang nomor satu di lembaga pendidikan tinggi yang berbasis SMK ini. “DIREKTUR POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN mengharapkan dengan hormat kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i …. dst.”Begitulah bunyi kalimat pembuka undangan itu. “Alhamdulillah, akhirnya Politeknik Balikpapan menjadi NEGERI”, gumamku dalam hati. Aku melanjutkan bacaanku ke bagian isi undangan itu lalu beralih ke penutupnya. Ada tanda tangan yang begitu aku kenal dan akrab dengan penglihatanku disana. Ada nama sahabatku yang dulu aku jembatani dan kenalkan dengan salah satu direktur lembaga ini sebelumnya yang kemudian bersama-sama denganku menjadi bagian dari manajemennya saat itu. Ketika aku mengarahkan pandanganku sedikit ke bawah nama itu, aku tidak menemukan satu huruf atau angka pun. Tak ada tertera jabatan orang yang mengundangku di sana atau NIP atau juga pangkatnya sebagaimana yang sering aku lihat dalam dokumen-dokumen pendidikan tinggi negeri atau milik pemerintah.

Untuk yang pertama, aku bisa saja menghapus rasa penasaranku. Ketiadaan jabatan tertulis di bawah nama yang mengundangku bisa saja karena hal itu telah disebutkan dalam kalimat pembuka undangan tersebut. Tapi untuk hal yang kedua, aku tidak bisa menghilangkan rasa keingintahuanku. Mengapa direktur yang menandatangani undangan itu tidak mencantumkan NIP-nya padahal hal itu biasa digunakan sebagai salah satu pembeda identitas status yang dimiliki antara lembaga milik pemerintah dan swasta. “Bukankah lembaga pendidikan tinggi ini secara hukum telah bermetamorfosa menjadi lembaga milik pemerintah atau negeri”, tanyaku dalam hati. Adakah rasa sungkan dari pak direktur atas status baru yang disandang lembaga yang dipimpinya ini atau hanya sekedar mencoba keluar dari pakem yang selama ini biasa dipakai oleh organisasi milik pemerintah ? Aku mencoba mencari berbagai alasan supaya aku tidak tiba pada sebuah kesimpulan bahwa lembaga pendidikan yang pernah bekerjasama dengan salah satu lembaga pendidikan tinggi di Australia ini berstatus negeri tapi swasta.

Ah… aku merasa geli dan tidak percaya dengan kata-kataku sendiri. Seumur-umurku rasanya aku belum pernah mendengar kalau di negeri yang terkenal dengan keelokan budaya dan kramanya ini ada sebuah lembaga pendidikan negeri tapi swasta. Namun kegelian dan ketidakpercayaan itu semakin sulit aku tepis manakala pandanganku tertuju pada susunan acara dalam undangan yang masih saja aku baca dengan seksama. Susunan acara yang ketiga terbaca dengan jelas olehku; SAMBUTAN KOPERTIS WILAYAH XI KALIMANTAN. Sejauh yang aku tahu, lembaga-lembaga pendidikan tinggi swastalah yang selalu berlangganan menghadirkan Kordinator Perguruan Tinggi Swasta ini dalam berbagai acara seremonialnya, bukan perguruan tinggi negeri seperti Politeknik Balikpapan. Lalu, layakkah aku sematkan status ‘negeri tapi swasta’ itu, setidaknya untuk saat ini, kepada satu-satunya perguruan tinggi negeri di kota Balikpapan ini ?

Aku rasa tidak berlebihan kalaupun status itu aku sandangkan untuknya setidaknya untuk masa dua tahun ke depan. Toh juga Kementerian Pendidikan Nasional melalui keputusannya nomor 41 tahun 2011 masih juga belum sepenuhnya melepas embel-embel keswastaan perguruan tinggi ini. Dalam Aturan Peralihan Pasal 57 dengan tegas dan jelas mengatakan kalau penyelenggaraan pendidikan di Politeknik Balikpapan masih tetap dilaksanakan oleh Yayasan Pendidikan Pemerintah Kota Balikpapan yang dalam hal ini merupakan representasi yuridis penyelenggara lembaga pendidikan swasta di Politeknik Balikpapan.

Unik memang ! Tetapi justru dengan keunikannya inilah undangan VIP ditanganku ini menjadi begitu istimewa. Apapun kondisinya saat ini, aku tidak pernah berkecil hati melihat perjalanan lembaga ini. Aku yakin kelak ia akan menjadi mercusuar sekaligus oase pendidikan kejuruan di Kalimantan Timur bahkan di Indonesia. Selamat merayakan WISUDA KE VII POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN ! Jadilah TERANG dalam KEGELAPAN dan KECEMERLANGAN dalam KETERANGAN !

Salam Jabat Erat,


Balikpapan, 18 November 2011
SYAMSUL AEMATIS ZARNUJI
szarnuji@yahoo.com
www.zarnuji.blogspot.com
www.myvirtualviews.wordpress.com

Wednesday, November 16, 2011

POLITEKNIK YANG UNIK : Paket Istimewa Dari Politeknik Balikpapan ?


Ketika aku melewati pintu samping gedung administrasi sekolahku, pak Hadi yang biasa ‘meledekku’ bergurau. “Pak Syamsul, itu ada paket spesial untuk bapak “, katanya. “Ah.. paket apa itu pak Adi ?”, tanyaku. “Lihat aja di kantor depan !”, timpalnya. “Seumur-umur rasanya aku belum pernah menerima paket di sekolah ini, apalagi paket istimewa”, gummamku dalam hati. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, segera saja aku menghampiri kantor depan yang sudah ‘tak bertuan’ itu. Maklum saat itu sudah jam 05.00 sore jadi kantor depan sekolahku itu sudah tidak ditunggui lagi. Benar saja ! Saat tatapanku tertuju ke sebelah kanan kantor depan itu, sebuah amplop berwarna krem terbalut pita keemasan tampak di salah satu sudut meja disana. Aku mendekatinya lalu mengambil amplop itu. Duh.. Gusti, ternyata amplop itu adalah sebuah undangan istimewa untukku dari Politeknik Balikpapan. WISUDA ANGKATAN VII POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN TAHUN 2011- VIP !

Aku tak menyangka kalau lembaga yang telah ‘membesarkanku’ itu masih ingat

padaku. Maklumlah beberapa waktu yang lalu aku telah ‘dikembalikan’ ke organisasi indukku, SMK Negeri 1 Balikpapan. Tidak hanya itu, mulai tahun akademik 2011/2012 ini, aku juga tidak mendapatkan tugas mengajar apapun dari institusi yang telah bersamaku selama hampir satu dekade itu. Apalagi setelah mengetahui ‘jasaku’ tidak diperlukan lagi sehingga aku berpamitan kepada rekan-rekanku sebulan yang lalu, aku fikir itulah terakhir kali aku bertemu secara organisasi dengan mereka. Aku fikir itulah akhir kebersamaanku dengan lembaga yang didirikan sepuluh tahun yang lalu itu ! Namun apa yang aku fikirkan saat itu ternyata salah. Buktinya, ‘paket istimewa’ itu ada di tanganku saat ini. Paket istimewa itu menjadi bukti bahwa aku masih bersamanya atau setidak-tidaknya aku masih diingat olehnya. Bersambung …………… !

Balikpapan, 16 November 2011

SYAMSUL AEMATIS ZARNUJI
szarnuji@yahoo.com
www.zarnuji.blogspot.com
www.myvirtualviews.wordpress.com

Saturday, September 24, 2011

BISMILLAH, SAYA KEMBALI KE DESA UNTUK MEMBANGUN DESA


Ibukota Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia seringkali dipusingkan oleh arus urbanisasi dari desa. Jakarta atau kota-kota besar tersebut sungguh menarik dan telah menjadi mimpi indah bagi kebanyakan orang-orang yang tinggal di desa. Oleh karenanya, pada musim-musim tertentu seperti pasca lebaran, berduyun-duyunlah orang-orang desa masuk kota. Mereka tidak perduli dengan keterampilan yang mereka miliki. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap nekat untuk mengadu nasib ke kota. Konsekwensinya, mereka tidak mampu berkompetisi yang membuat mereka jadi pengangguran. Mereka tidak produktif dan akhirnya menjadi beban bagi kota yang didatangi.

Mengatasi masalah urbanisasi dari desa ke kota ini tidaklah mudah. Kota Jakarta dengan opearasi yustisinya toh juga belum memberikan hasil yang optimal. Demikian juga dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia denga berbagai program dadakannya. Program-program instan yang dilakukan dinilai tak akan memberikan hasil yang positif dalam rangka menanagani isu urbanisasi ini. Pola klasik namun sangat rasional yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah ini adalah dengan membangun atau mengadakan berbagai lapangan kerja di desa sehingga kesenjangan jumlah kesempatan kerja di kota dan di desa tidak terlalu mencolok. Kata kuncinya adalah menciptakan lapangan kerja di desa. Berangkat dari realitas inilah, setelah 15 tahun menetap di kota Balikpapan dengan sedikit modal yang ada, Bismillah, saya berniat pulang kampung untuk membangun tanah kelahiran saya dengan membuat lapangan kerja bagi kakak dan adik-adik saya serta kerabat dan handai taulan yang bermukim di desa supaya mereka tidak menjadi beban bagi negara. InsyaALLAH !

Balikpapan, 1 Syawal 1432 H - 1 September 2011

Syamsul Aematis Zarnuji
Desa Senayan-Poto Tano
Kab. Sumbawa Barat-NTB

Friday, August 05, 2011

MY CURRENT REASEARCH PROJECTS


Dalam beberapa bulan ke depan, ada dua kegiatan penelitian yang akan saya laksanakan. Pertama, penelitian terkait dengan penyelesaian studi S-2 saya dalam bidang pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Judul penelitian untuk THESIS saya ini adalah : MODELS OF ENGLISH LESSON PLANNING AND INSTRUCTIONAL ACTIVITIES : A CASE STUDY CONDUCTED AT SMK NEGERI 1 BALIKPAPAN. Penelitian ini merupakan pengembangan tugas akhir matakuliah 'Qualitative Research' yang telah saya ikuti pada semester II studi pascasarjana saya. Untuk mengetahui lebih jauh tentang penelitian ini, dapat dibaca di tautan berikut ini; http://myvirtualviews.files.wordpress.com/2011/08/thesis-preliminary-proposal.pdf

Penelitian saya yang kedua terkait dengan Program Penelitian Dosen Mandiri yang disponsori oleh Politeknik Balikpapan [Tentu jika proposal penelitian yang insyaAllah akan saya ajukan dalam waktu dekat ini disetujui oleh UPPM Politeknik Balikpapan]. Judul penelitian kedua saya ini adalah: EFEKTIFITAS PELAKSANAAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN PADA SEKOLAH SWASTA DI KOTA BALIKPAPAN. Informasi lebih rinci tentang penelitian ini dapat dibaca dalam tautan berikut ini; http://myvirtualviews.files.wordpress.com/2011/08/proposal-penelitian-dosen-mandiri-2011.pdf

Semoga bermanfaat !

Balikpapan, 6 September 2011
SAZ

Sunday, July 31, 2011

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H

Para Pembaca Yang Saya Hormati,
Mengawali bulan RAMADHAN yang penuh barakoh ini, ijinkan saya mengucapkan SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H bagi siapa saja yang menjalankannya dan dimanapun berada. Mohon maaf bila selama ini pernah tertulis kata-kata saya yang kurang berkenan di hati baik yang terjadi dengan kesengajaan saya maupun tidak. Semoga segala amal ibadah yang kita lakukan di bulan suci ini diterima oleh Allah SWT. Amien.

Balikpapan, 1 Agustus 2011

SYAMSUL AEMATIS ZARNUJI

DEKLARASI PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA : Masikah Ada Harapan Disana ?


DEKLARASI PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA : Masikah ada harapan disana ?

By : SYAMSUL AEMATIS ZARNUJI

Upacara Senin pagi 24 Juli 2011 ini di sekolah kami tidak seperti biasanya. Ada banyak acara ekstra mulai dari pidato bahasa Inggris yang disampaikan oleh salah satu siswa kami yang baru saja kembali dari Amerika Serikat dalam rangka mengikuti Youth Leadership Exchange Program yang terselenggara atas kerjasama kami dengan Civic Initiative Indonesia dan State Department of US Embassy Jakarta, penyerahaan berbagai piala/piagam penghargaan bagi siswa yang memenangi berbagai lomba hingga pembacaan DEKLARASI PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA yang dilakukan secara bersama oleh perwakilah guru, tenaga kependidikan dan siswa di sekolah kami. Yang terakhir saya tulis dalam huruf besar karena hal inilah yang membuat saya gundah. Terselip pertanyaan dalam hati saya, masihkan ada harapan untuk para penyelenggara pendidikan di negeri ini agar benar-benar secara konsisten mengimplementasikan salah satu butir saja dari apa yang telah dideklarasikan.

Apakah gerangan butir deklarasi yang membuat hati saya gundah tersebut ? Apalagi kalau bukan KEJUJURAN. Jelas sekali saya dengar setiap butir deklarasi yang dibacakan melalui pengeras suara dan saya menjadi gundah ketika mendengar bahwa KEJUJURAN menjadi salah satu karakter yang akan dijunjung tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Saya gundah, ragu-ragu dan diliputi perasaan pesimis atas terwujudnya penyelenggaraan pendidikan yang JUJUR manakala melihat kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan hal tersebut. Sungguh sebuah hal yang sangat paradoksal !

Sejak saya terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan di negeri ini lima belas tahun yang lalu hingga saat ini, secara terang benderang dan kasat mata tampak bahwa KEJUJURAN ITU telah menjadi barang langka. KEJUJURAN itu telah dirampok oleh sebuah kepentingan lalu disembunyikan oleh pihak-pihak yang berkuasa. KEJUJURAN itu telah dibuat tak berdaya hingga tak mampu lagi menghampiri segelintir anak negeri yang masih polos dan lugu. KEJUJURAN itu telah menjadi barang menakutkan bagi mereka.

Ungkapan-ungkapan ini cukup kiranya memberi gambaran betapa mahlnya harga sebuah KEJUJURAN dalam ranah-ranah tertentu penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Penyelenggraan ujian nasional, pengelolaan pembiayaan, pelaksanaan akreditasi, sertifikasi guru hingga penentuan status sekolah telah menjadi tempat dimana KEJUJURAN itu semakin tidak bersahabat. Kasus-kasus contek masal, manipulasi dan katrol nilai ujian nasional, manipulasi laporan BOS, sogok menyogok akreditasi sekolah, pemalsuan sertifikat dalam kegiatan sertifikasi guru dan penentuan status sekolah tanpa dasar yang jelas sudah lebih dari cukup untuk menjadi cermin betapa KEJUJURAN itu telah menjadi asing di mata para pengelola pendidikan di negeri ini.

Kenyataan ini semakin ironis ketika menyadari bahwa kelangkaan dan kekerdilan KEJUJURAN itu justru terjadi di sebuah tempat dimana hal itu semestinya tumbuh subur. Pendidikan [baca: sekolah] sebagai rumah dimana KEJUJURAN itu diharapkan bisa hidup, berkembang biak dan merambah ke seluruh penghuninya, bahkan orang-orang yang ada disekitarnya, justru kini menjadi pembunuh yang sadis. KEJUJURAN yang sejak lahir dipupuk dalam hati para siswa, guru, kepala sekolah dan mungkin kepala dinas pendidikan telah dikerdilkan bahkan dirampok oleh para penguasa dengan sistem yang dibuatnya. Sungguh menyedihkan ! Lalu masihkah ada harapan terhadap KEJUJURAN sebagai sebuah karakter pendidikan di republik ini ? Semoga bermanfaat.



Balikpapan, 24 Juli 2011
Salam Kejujuran,

/SAZ/

Saturday, November 27, 2010

GURU DAN TELKOMSEL : SEBUAH IRONI ?


Sebagai pelanggan yang cukup lama dan setia dengan kartu HALO, saya selalu berharap TELKOMSEL dapat memberi sedikit perhatian kepada pelanggan seperti saya dalam bentuk non finansial sekalipun. Sebut saja misalnya, peliputan atau penayangan profil pelanggan HALO atau produk TELKOMSEL lainnya pada media-media informasi atau promosi yang diluncurkannya. Salah satu yang selalu saya ikuti adalah tayangan profil pelanggan/tokoh di radio SMART FM Balikpapan. Jika saya perhatikan dari lamanya para pelanggan atau tokoh yang bersangkutan menjadi pelanggan Kartu HALO atau produk TELKOMSEL lainnya yang ditampilkan dalam acara tersebut, saya harus katakan bahwa sebagian besar dari mereka masih 'hijau' soal kesetiaan pada sebuah produk. Tapi yang mengherankan, mereka mendapatkan ’privilege’ yang lebih dibandingkan dengan pelanggan-pelanggan seperti saya dari TELKOMSEL. Saya menduga 'privilege' ini mereka dapatkan karena mereka adalah pelanggan yang dianggap sebagai tokoh dalam sebuah komunitas tertentu atau karena mereka punya banyak uang yang diberikan keapada TELKOMSEL melalui pembayaran 'phone billing' setiap bulannya. Sementara, pelanggan-pelanggan seperti saya, disamping tidak punya 'pundi' yang cukup besar, ketokohannya pun seringkali dimarjinalisasikan oleh kebanyakan masyarakat kita, mungkin juga oleh TEKOMSEL dalam konteks dan filosofi 'customer care' yang dianutnya.

Seorang pelanggan yang berprofesi sebagai guru, dalam perspektif bisnis yang dianut oleh TELKOMSEL, bisa jadi dipandang tidak memiliki 'nilai jual' yang cukup dalam rangka menaikkan derajat korporasi dimata publik atau bisa saja karena guru dianggap tidak mampu menjadi agen yang dapat mengubah atau membangun image sebagai basis pengkreasian 'buyers network' atas sebuah produk yang sedang dipasarkan. Dengan demikian, berapapun lama dan sesetia apapun seorang pelanggan yang berlatar belakang profesi sebagai guru seperti saya terhadap produk tersebut, dimata korporasi yang menganut filosofi bisnis seperti ini, keberadaan pelanggan seperti dimaksud boleh jadi belum patut diperhitungkan.

Kalau filosofi ini kemudian yang dianut oleh TELKOMSEL dalam menjalankan bisnisnya sehingga para pelanggan yang berlatar belakang dan memiliki status sosial seperti saya kurang diperhatikan, saya dengan berat hati harus legowo menurunkan kadar kebanggaan yang saya miliki atas korporasi ini dalam waktu lebih dari satu dekade terakhir ini. Saya juga harus berani mengatakan bahwa TELKOMSEL telah salah dalam memaknai dan memposisikan pelanggannya yang berlatar belakang guru seperti saya. TELKOMSEL telah gagal melihat peran lain yang cukup potensial dalam perspektif bisnis tentunya yang mampu dimainkan oleh seorang guru selain fungsi edukasi dan sosial yang selalu melekat dan tak terelakkan dalam dirinya.

Perusahaan-perusahaan yang menganut filosofi  seperti ini bisa jadi meyakini bahwa hanya tokoh-tokoh politik, pejabat, bintang film, penyanyi, pelawak dan profesi-profesi yang kadangkala bisa diraih secara instan tersebut saja yang mampu mengubah dan membangun image ’target market’ yang dinginkannya. Mereka lupa bahwa guru sejatinya begitu amat dekat dengan ’target market’ tersebut.  Guru, tanpa bisa difungkiri, telah menjadi salah satu bagian dari sebuah profesi dan status sosial masyarakat yang membawa misi pembaharuan ide, gagasan dan image  atas sesuatu hal. Guru juga, sebagaimana tokoh-tokoh politik  dan pejabat-pejabat yang ’distimewakan’ oleh TELKOMSEL tersebut, memiliki ’massa’ yang jumlahnya begitu banyak dan bertambah dari tahun ke tahun yang berpotensi dijadikan ’target market’ atas produk yang hendak dipasarkannya. Potensi-potensi seperti ini justru seringkali mampu dibaca oleh pihak-pihak yang notabene bukan representasi dan korporasi yang menjadi backbone perekonomian negara kita. Eksistensi guru sebagai ’agent of change’ dalam persoalan ide, gagasan dan image malah dimanfaatkan di satu sisi, namun termuliakan di sisi lain, oleh organisasi-organisasi yang bukan dimiliki oleh bangsa kita.

Dalam berbagai ajang internasional yang pernah saya ikuti dalam lima tahun terakhir ini dimana guru dari berbagai belahan dunia terlibat di dalamnya, saya selalu mendapatkan jawaban yang sama ketika saya bertanya mengapa guru diberikan kesempatan yang begitu luas dan diistimewakan dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Mengapa oraginasi-organisasi yang secara faktual bukan milik bangsa ini tetapi dengan begitu antusias menempatkan orang-orang seperti saya pada posisi yang istimewa ? Mengapa setiap kali kunjungan saya ke negara adidaya seperti Amerika Serikat, saya selalu diberikan kesempatan menjadi tamu kehormatan dan berbicara di salah satu jaringan televisi dan radio terbesar di dunia; Voice of America, sementara di Indonesia, untuk tampil sebagai salah satu tamu TELKOMSEL melalui jaringan radio SMART FM saja begitu sulit diwujudkan. Jawaban mereka atas pertanayaan-pertanyaan tersebut tak lain dan tak bukan karena guru memiliki peran yang tidak kalah penting dan kuat dalam rangka membangun persepsi atas berbagai hal. Satu kata seorang guru bisa menjadi beratus-ratus bahkan beribu-ribu kata ketika hal itu disampaikan kepada siswa-siswinya, tidak terkecuali ketika sebuah korporasi ingin memperkenalkan produk yang diciptakannya.

Kalau demikian adanya, masihkan TELKOMSEL memarjinalisasikan pelanggan dengan latar belakang, profesi dan status sosial seperti ini dalam berbagai kegiatan ’customer care’ yang dijalankannya ? Selamat  Hari Guru 25 November 2010 ! Jayalah Guruku, Jayalah Negeriku dan Jayalah Bangsaku !

Salam,

Syamsul Aematis Zarnuji – www.zarnuji.blogspot.com

Friday, August 13, 2010

BALIKPAPAN ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGE (BALIBALING)

As an Indonesian Educator and alumnus of The US Department of State Educators Exchange Program 2006 & 2009, I have always been dreaming about promoting every single aspect of life belongs to Indonesia and United States of America to those who have not had first-hand experience on them. I am, therefore, planning to launch a virtual forum which I refer it as BALIKPAPAN ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGE (BALIBALING) in the near time. BALIBALING is an ICT-Based education and exchange forum where teachers and students in Balikpapan can VIRTUALLY share and exchange information about cultures, customs, politics, life stiles, arts, history, education, technology as well as teaching and learning materials with other teachers and students in Amherst [http://en.wikipedia.org/wiki/Amherst_Massachusetts/ or  http://www.amherstma.gov/] , USA. In order to be able to actively participate in this forum, each member or participant has to possess good command of English and computer literacy. Thus, possessing good English communication skill is applied as one of initial requirements to be member or participant of such a forum. For this reason, I have decided to establish two supporting programs for those who are interested in joining it. The two programs are carrying out WORKSHOPS ON ICT-BASED ACTIVE LAERNING AND TEACHING (1) and conducting VIRTUAL TEACHERS & STUDENTS EXCHANGE PROGRAM (2). The establishment of BALIBALING and its two supporting programs are to be included in my collaborative post-action project which is entitled DEVELOPING AND EMPOWERING ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGES AMONG TEACHERS-STUDENTS IN BALIKPAPAN AND TEACHERS-STUDENTS IN AMHERST, UNITED STATES OF AMERICA. The final goal of this project is that to help its participants have better learning & teaching skills using ICT and promote mutual understanding about Indonesia and United States of America among them. This project will last from November 2010 until October 2011.
 
There will be two groups of teachers-students expected to participate in this project; teachers-students reside in Balikpapan, Indonesia and those living in Amherst, USA. Through VIRTUAL TEACHERS & STUDENTS EXCHANGE PROGRAMS (VTSEP), those two groups will interactively share and discuss about particular topics ranging from cultures, customs, politics, life styles, arts, history, education, technology as well as teaching and learning materials one to another. Besides that, they will also participate in some workshops on ICT-Based Active Learning and Teaching (IBALT). This program is compulsory especially for those who have not had adequate skills in joining the VTSEP.


To reach the final goal of this project, all primary program activities are designed in order to lead each participant to study best practices of using ICT and using them for better learning and teaching while promoting self awareness about country’s heritages belong to both sides. All program activities and time frames of the project are outlined as follows;


A. NOVEMBER – DECEMBER 2010: PRELEMINARY PREPARATION

1. Proposal Finalization.

2. Making project exposures and publications.

3. Founding and declaring the foundation of BALIKPAPAN ICT-BASED ACTIVE LEARNING LINGKAGE (BALIBALING).

4. Making preliminary contacts with teachers and students in Amherst, USA.

5. Proposing the project to the US Department of State for program financing support.


B. JANUARY-FEBRUARY 2011: WORKSHOPS ON ICT-BASED ACTIVE LEARNING AND TEACHING.

1. BASIC PROGRAM: Using Word processing, Spread Sheet, Internet and Electronic Mails [E-mails].

2. INTERMEDIATE PROGRAM: Using Power Point, Front Page, Intranet [LAN], E-mailing Group and Weblog.

3. ADVANCED PROGRAM: Using Pinnacle, Photoshop and making simple website to design and publish on and off-line learning and teaching materials.


C. MARCH-SEPTEMBER 2010: CONDUCTING VIRTUAL TEACHERS & STUDENTS EXCHANGE PROGRAM (VTSEP).

1. Preliminary Activities:

• Making further contacts with American teachers and students both individually and organizationally.

• Setting up an agreement of collaboration to establish and empower VTSEP.


2. Main Activities:

• Introduction: Sharing pictures of exchange program participants, school activities, cultural events and interesting objects.

• Cross Culture Understanding: Exchanging Cultural values, customs and life styles of people living in both countries; Indonesia and America.

• Discussing about American and Indonesian education systems in general.

• Discussing about schooling systems; facilities, teachers, students, curriculum, school regulations, dressing codes, tuition fee, examinations, extracurricular activities, parents’ involvement in school funding, teachers’ salary, teachers’ associations or federations, students’ union, etc.

• Sharing ideas about general issues commonly discussed by people in both country; Indonesia and America, and

• Other Free-Topic Discussions.


C. OCTOBER 2010: PROJECT EVALUATION

1. Surveying project outcomes, and

2. Asking for Feedbacks from participants for project improvement.


At present I am still working on completing proposal [guidelines] of the project. If any of you find it interesting and have ideas to make it better, please feel free to write me back. Your ideas are highly appreciated. For Staff Member of Civic Initiative, would you please do me a favor to let teachers and students in Amherst and around know this project ? I’ve also made initial contacts through emails and let American teachers, students and interested parties we have worked with in the Civic Initiative program know about it.


Any ideas and comments shall be addressed to www.civicinitiative.blogspot.com. If anybody has not had access or think it’s not a good idea to sent them to the link, please feel free to do so to the following email addresses; syamsul_etc@yahoo.com or szarnuji@yahoo.com. Thank you for your help and kind attention. I’m looking forward to hearing from and working with you soon !


Regards,






Syamsul Aematis Zarnuji

The 2006 & 2009 US Department of State Program Alumnus.


Office :
SMK Negeri 1 Balikpapan, Jl. Marsma R. Iswahyudi No. 1 Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia 76115


Telephone : +62 542 761 941


Facsimile : +62 542 761 985


E-mail : pubaffairs.smkn1bpn@yahoo.com

Website : http://www.smkn1-bpn.sch.id/